Padahal, surat yang ditujukan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno tersebut, juga ditembuskan ke Direktur Utama PLN Sofyan Basir.
Dalam surat itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan kekhawatirannya atas laba bersih PLN yang terus turun di tengah kewajiban pelunasan utang jatuh temponya yang semakin gemuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Surat itu viral dan belum juga secara formal sampai ke PLN. Saya belum bisa menanggapi secara formal seperti apa, tapi kami akan tetap melakukan upaya terbaik,” ujar Direktur PLN Syamsul Huda, Kamis (27/9).
“Target kami tetap 35 ribu MW. Secara formal, belum ada revisi 35 ribu itu jadi berapa,” tegas dia.
Di samping itu, ia bilang, perusahaan belum berniat untuk mengajukan perubahan tarif demi memperbaiki kinerja keuangan perseroan. Apalagi, masalah tarif listrik merupakan kewenangan Kementerian ESDM.
Sebelumnya, Direktur Utama PLN Sofyan Basyir pernah meminta pemerintah untuk memberikan harga khusus bagi batu bara yang digunakan dalam memasok Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pasalnya, saat ini, harga batu bara dianggap menjadi momok bagi beban operasional perusahaan.
Selama ini, perusahaan membeli batu bara menggunakan harga pasar yang berlaku. Hal itu akan sangat membebani ongkos operasional jika harga batu bara meningkat tajam, seperti yang terjadi pada semester I kemarin. Terlebih, 55 persen dari kapasitas terpasang pembangkit saat ini bertenaga batu bara.
Sekadar informasi, PLN membukukan laba bersih sebesar Rp2,3 triliun pada semester I 2017. Angka ini menurun 70,8 persen jika dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp7,9 triliun akibat peningkatan di sisi biaya.