"Kondisi geopolitik ini membuat saya semakin khawatir. Ini menjadi faktor dominan," ujarnya, Selasa (3/10).
Bahkan, Sri Mulyani tak menampik jika kondisi geopolitik akan mengubah kondisi ekonomi di Asia Tenggara. Menurut dia, sebelum ketegangan terjadi, daya beli masyarakat Asia Tenggara cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk meminimalisir penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam negeri, lanjut mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu, pemerintah bakal melakukan pengecekan dari berbagai sisi.
Adapun, terkait isu penurunan daya beli masyarakat, ia menyebutkan, pemerintah belum tahu pasti alasan dibalik fenomena tersebut.
"Jadi, itu kan bergantung analisis data, masih membutuhkan analisis,” imbuh dia.
Beberapa faktor tersebut, antara lain pertumbuhan lapangan kerja yang tinggi, kenaikan gaji sebanyak dua digit, kepercayaan konsumen yang tinggi, menurunnya inflasi pangan, rupiah yang stabil, dan peralihan momen Idul Fitri ke kuartal II yang seharusnya menaikkan konsumsi.
Pun demikian, Bank Dunia optimis konsumsi swasta akan meningkat seiring dengan bertambahnya lapangan kerja dan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebanyak dua kali menjadi 4,25 persen.