Pengamat Ekonomi Politik Fachry Ali menilai, bahwa waktu ucapan Kadin bertepatan menjelang tahun politik. Apalagi, di saat bersamaan, Kadin juga meminta Jokowi untuk menjual aset-aset BUMN yang menarik kepada pengusaha swasta.
Fachry mengatakan, Jokowi bisa mendapat sokongan pengusaha untuk 2019 mendatang jika mengabulkan teriakan Kadin tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fahry melanjutkan, kehadiran BUMN sejak dulu selalu dikaitkan dengan pergolakan politik di Indonesia.
Tetapi Fahry mengingatkan para pengusaha swasta bahwa pengurangan peran serta BUMN tidak bisa dilakukan semudah itu. Sebab, BUMN bisa menjadi bantalan pemerintah jika sekiranya ada kondisi eksternal yang mengganggu perekonomian domestik.
Ia mencontohkan krisis ekonomi tahun 1997 dan 1998. Saat itu sektor swasta tidak mau membelanjakan modalnya, sehingga BUMN harus berjibaku demi bisa menopang pertumbuhan ekonomi.
“Jadi BUMN, suka atau tidak suka ya tetap akan dibutuhkan di setiap rezim,” lanjutnya.
Pengamat BUMN Said Didu juga menduga bahwa isu dominasi BUMN ini dilatari motif politik. Apalagi menurutnya, sebagian besar anggota Kadin berafiliasi dengan partai politik.
“Di Kadin tidak sedikit kok yang melakukan politisasi. Saya sih melihat ada apa-apa di balik isu ini,” paparnya.
Isu dominasi BUMN diungkapkan oleh Ketua Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani beberapa waktu lalu.
Menurut Rosan, BUMN berekspansi terlampau jauh dengan memiliki anak, cucu, hingga cicit usaha yang tidak sesuai bisnisnya sehingga menyulitkan usaha kecil berkembang.
"Anak cicit BUMN ini mengambil banyak porsi swasta dan UMKM. Contohnya, ada kegiatan catering untuk internal BUMN yang dibikin oleh cicit mereka. Kami ingin BUMN kembali ke core bisnisnya,” ujar Rosan.
Lihat juga:Kadin Dukung Jokowi Dua Periode |
Setelah menyampaikan usulan itu, Rosan langsung menyatakan dukungannya terhadap pemerintahan Jokowi selama dua periode. “Kami dari Kadin berharap agar Pak Jokowi tetap sehat agar bisa memimpin sampai tujuh tahun ke depan,” kata dia.