Co-Working Space Jadi Incaran Generasi Millennial

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Kamis, 12/10/2017 11:00 WIB
<i>Co-Working Space</i> Jadi Incaran Generasi Millennial Co-working space saat ini tengah banyak diincar oleh kaum mileneal, kendati harga sewanya tidak selalu lebih murah dibandingkan kantor konvensional. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga konsultan properti, Jones Lang Lasalle (JLL) menyebut, co-working space (ruang kerja bersama) saat ini tengah banyak diincar oleh anak muda dan kaum millennial. Padahal, harga sewa co-working space tidak selalu lebih murah dibandingkan kantor konvensional.

Head of Markets Angela Wibawa menjelaskan, konsep co-working space dinilai lebih santai untuk bekerja membuat jenis kantor yang satu ini menjadi incaran kaum muda atau generasi millennial.

"Lalu mereka bisa berkolaborasi dengan kelompok lain, bisa belajar. Kalau di kantor konvensional kan hanya bertemu kolega internal," ujar Angela di Jakarta, Rabu (11/10).

Angela menjelaskan, harga sewa di co-working space tidak selalu lebih murah dibandingkan dengan kantor konvensional. Angela tak menyebut spesifik, hanya saja biaya sewanya menurut dia, sangat tergantung dari pilihan layanan yang dipilih oleh penyewa.

"Jadi tergantung, kan ada biaya keanggotaan, tetap bayar sewa itu tergantung layanan. Ya memang agak sedikit berbeda," jelas Angela.

Central Business District
Angela menjelaskan, rata-rata harga sewa kantor di kawasan Central Business District (CBD) kini sebesar Rp200.660 per meter persegi per bulan. Sementara, tingkat okupansi menurun pada sembilan bulan pertama tahun ini.

"Tingkat hunian (kantor) untuk kawasan CBD masih mengalami sedikit penurunan ke angka 81 persen," ujar Angela.

Saat ini, total penyerapan di kawasan CBD sebesar 27 ribu per meter persegi ditengah adanya penawaran unit baru sebanyak 69 ribu per meter persegi.

Sementara itu, jumlah stok yang ada hingga kuartal III ini sebanyak 5,7 juta meter persegi. Itu belum ditambah prediksi masih ada unitnya baru dalam waktu mendatang mencapai 1,6 juta meter persegi.

"Sementara pasar perkantoran non-CBD mengalami tingkat penyerapan positif yang mampu menjaga tingkat hunian mereka di level 76 persen," papar Angela.

Head of Research James Taylor menambahkan, sektor teknologi informasi (TI) kini merajai aktifitas permintaan di sektor perkantoran. Tak tanggung-tanggung, lebih dari 50 persen persediaan unit perkantoran di CBD terisi oleh bisnis sektor tersebut.

"Pertumbuhan sangat aktif, ini seperti financial technology (fintech), online gaming, travel booking, online marketplace, dan co-working," papar James.

Sementara itu, penyewaan kantor oleh sektor minyak dan gas hingga kuartal ketiga tahun ini, menurut dia, masih sepi kendati harga minyak sudah kembali berada di atas US$50 per barel.

Permintaan sektor migas, menurut dia, diprediksi sulit untuk meningkat signifikan kembali. "Sektor migas tidak akan kembali ke level yang sama seperti sebelum 2015," terang James. (agi)