GOLD kemudian mengubah portofolio bisnisnya menjadi penyedia infrastruktur telekomunikasi. Sementara, Golden Truly dibawahi oleh PT Golden Anugerah Sejahtera (GAS) dan PT Golden Prima Retailindo yang merupakan anak usaha GOLD.
“Dalam laporan audit 2017 terdapat informasi mengenai divestasi di PT GAS,” ujar Direktur Keuangan Visi Telekomunikasi Riady Nata kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam hal ini, perseroan menjual seluruh kepemilikannya di GAS sebesar Rp2,7 miliar. Penjualan juga dilakukan tehadap saham PT Golden Prima Retailindo yang dimiliki perseroan sebesar Rp1,5 miliar.
Makanya, perseroan mencari bisnis yang bisa memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dengan mengakuisisi PT Permata Karya Perdana (PKP).
"Kami melakukan non Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk menambah dana mengakuisisi PKP," kata Riady.
Kinerja perseroan saat ini, sukses mencetak pertumbuhan laba bersih dan pendapatan sepanjang kuartal III 2017. Pendapatan perusahaan naik 179,98 persen menjadi Rp19,34 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Rp6,9 miliar.
Pertumbuhan pendapatan ini membuat perseroan meraup laba bersih dari posisi kuartal sebelumnya yang masih tercatat rugi. Yakni, laba bersih sebesar Rp281,48 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang rugi Rp6,34 miliar.
"Kami lagi fokus ke pembangunan menara saja," pungkas Riady.
Tutup Gerai di Depok
Sebelumnya, Golden Truly bisa ditemui di sejumlah wilayah, seperti Fatmawati, Sudirman, Tendean, Gunung Sahari, Depok, serta Blok M. Kini, Golden Truly tersisa hanya di dua titik, Gunung Sahari, dan Mall Batam City Square.
Lihat juga:Penyaluran Tenaga Kerja ke Mal Diakui Lesu |
Semakin ciutnya jumlah gerai Golden Truly menguatkan dugaan daya beli yang terus melemah. Sebelumnya, Lotus Department Store dan Debenhams juga menutup operasionalnya, menyusul Ramayana dan Matahari Department Store yang mengurangi toko fisiknya.