Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan menjelaskan, negara-negara SACU terdiri dari Botswana, Lesotho, Namibia, Afrika Selatan, dan Swaziland.
"Keputusan tersebut dikeluarkan secara resmi oleh International Trade Administration Commision of South Africa (ITAC) pada 6 Oktober 2017 karena tidak menemukan praktik dumping maupun kerugian yang disebabkan impor produk solar glass dari Indonesia. Keputusan tersebut terhitung efektif mulai 26 Juli 2017 sejak berakhirnya pengenaan BMAD," kata Oke dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (25/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oke menjelaskan, pengenaan BMAD terhadap produk impor solar glass ke negara anggota SACU sebesar 10-45 persen mulai dikenakan pada 1 Januari 2015. Saat itu, South African Revenue Service (SARS) mengeluarkan nomor Pos Tarif/HS baru yaitu 7005.29.05 untuk produk solar glass.
Dengan demikian, pengenaan BMAD pada produk clear float glass yang dikenakan sejak 3 Oktober 2006, menjadi berlaku juga atas produk solar glass yang diklasifikasikan di bawah nomor Pos Tarif/HS baru tersebut.
PFG Building Glass merupakan satu-satunya produsen clear float glass dan solar glass di negara anggota SACU. Untuk itu, ITAC merekomendasikan kepada Kementerian Perdagangan dan Perindustrian Afrika Selatan bahwa pengenaan BMAD terhadap produk solar glass dihentikan sejak berakhirnya pengenaan BMAD yaitu pada 26 Juli 2017.
"Saat ini terbuka kembali akses pasar produk solar glass ke negara-negara anggota SACU yang merupakan pasar ekspor nontradisional. Langkah ini perlu ditindaklanjuti dengan intensifikasi program Kementerian Perdagangan dalam menggarap produk ekspor alternatif dengan tujuan pasar ekspor nontradisional sebagai upaya diversifikasi produk dan negara tujuan ekspor," tandasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor solar glass Indonesia ke SACU setelah pengenaan BMAD tersebut hanya pernah terjadi pada tahun 2015 senilai US$11.301.
"Penghentian pengenaaan BMAD ini secara positif akan membuka peluang bagi eksportir Indonesia untuk mengisi pasar solar glass di negara-negara anggota SACU," pungkas Pradnyawati.