Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, peningkatan laba bersih ditopang oleh kenaikan penyaluran kredit dan pendapatan non bunga.
"Manajemen risiko yang prudent (hati-hati) juga merupakan bagian penting dalam upaya mempertahankan pertumbuhan laba yang positif," ujar Jahja dalam konferensi pers di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Kamis (26/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, beban operasional perseroan tercatat Rp18,79 atau melonjak 7,1 persen. "Ke depannya, kami akan tetap berhati-hati dan mempertahankan pendekatan bisnis secara prudent," terang Jahja.
Dalam portofolio kredit konsumer, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mencatat pertumbuhan sebesar 26,8 persen menjadi Rp78, 8 triliun, berkat penawaran produk dengan struktur tertentu dan tingkat suku bunga yang kompetitif.
Sementara, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dan kartu kredit masing-masing meningkat 11,4 persen menjadi Rp38,5 triliun dan 13,4 persen menjadi Rp11 triliun.
Adapun pencadangan perseroan melorot 41,7 persen dari Rp3, 14 triliun menjadi Rp1,8 triliun.
Dari sisi pendanaan, Jan mengungkapkan, akumulasi dana pihak ketiga (DPK) meningkat 16,5 persen menjadi Rp574,4 triliun. Porsi dana murah (CASA) masih mendominasi sebesar 74,5 persen dari total DPK, dengan mencatatkan Rp428 triliun atau naik 11 persen dibanding dengan posisi akhir September 2016.
Dari sisi likuiditas terbilang longgar dengan rasio kredit terhadap pendanaan (Loan to Fund Ratio/LFR) tercatat sebesar 74,7 persen. Sedangkan, rasio kecukupan modal (capital to asset rasio) sebesar 23,6 persen.
Perseroan juga mencatatkan kenaikan total aset sebesar 12,1 persen dari Rp738,2 triliun menjadi Rp739, 88 triliun per akhir kuartal 2017.