Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik mengungkapkan, perusahaan meraup laba bersih sebesar US$1,99 miliar, turun bila dibandingkan dengan kuartal III tahun lalu yang mencapai US$2,83 miliar.
"Pertama, harga ICP itu rata rata sembilan bulan di tahun 2016 itu US$37,88 miliar. Rata rata sembilan bulan di tahun ini naik 30 persen," ungkap Elia, Kamis (2/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kenaikan harga ICP ini, perusahaan sebenarnya berharap bisa ikut menaikan harga bahan bakar minyak (bbm). Sayangnya, Pertamina tak bisa melakukan penyesuaian harga karena pemerintah ikut campur dalam penentuan harga.
"Kalau sesuai formula, pendapatan kami US$32,8 miliar, karena tidak disesuaikan maka kami hanya dapat US$31,38 miliar," terang Elia.
"EBITDA kami juga turun walaupun secara persentase kecil dari US$6,23 miliar jadi US$4,88 miliar," sambung Elia.
Dalam laporan perusahaan, biaya operasional tumbuh menjadi US$27,41 miliar dari kuartal III tahun lalu yang sebesar US$21,57 miliar. Artinya, ada kenaikan biaya operasional sekitar US$5 miliar.
"Secara keseluruhan walaupun tidak naik tapi tetap mencatatkan laba," pungkas Elia.