Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan Kemal Imam Santos menyatakan, kerja sama ini bertujuan untuk menjamin keberlangsungan finansial program JKN-KIS. Dengan begitu, kualitas pengelolaan manajemen di rumah sakit akan terjaga.
"Keberlangsungan layanan terjaga, tentu ini adalah fasilitas komersial. Ini adalah impian kami, sebuah layanan publik tapi komersialnya juga berjalan," ungkap Kemal, Jumat (3/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam hal ini, BPJS Kesehatan melalui Bank Permata menawarkan program Invoice Financing atau yang biasa disebut Sustain Chain Financial (SCF). Dengan begitu, arus kas fasilitas kesehatan (faskes), khususnya faskes swasta tetap aman sehingga tidak mengganggu pelayanan kepada peserta JKN-KIS.
Sebagai informasi, Invoice Financing ialah kegiatan pembiayaan dengan menjaminkan tagihan yang sedang berjalan sebagai sumber pembayaran pinjaman.
Hal itu tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2016 pasal 38. Raihan dari tagihan itu biasanya akan digunakan faskes lanjutan, seperti rumah sakit untuk belanja obat, alat medis, dan jasa medis.
Lihat juga:Pemerintah Niat Kerek Iuran BPJS Kesehatan |
"Dengan dukungan Bank Permata 300 cabang, tentu meningkatkan kualitas mitra BPJS Kesehatan," kata Kemal.
Sementara itu, Direktur Wholesale Banking Bank Permata Darwin Wibowo mengungkapkan, melalui Invoice Financing maka pihaknya akan mengambil alih permohonan klaim peserta JKN-KIS yang sudah dikonfirmasi dan diverifikasi oleh BPJS Kesehatan.
"Kerja sama ini untuk menjaga arus kas mereka (rumah sakit)," terang dia.
Sebelumnya, lanjut Darwin, Bank Permata dan BPJS Kesehatan telah melakukan kerja sama terkait Payment Poin Online Bank (PPOB). Melalui fasilitas tersebut, peserta JKN-KIS dapat membayar iuran melalui kanal pembayaran elektronik milik Bank Permata.
Adapun, Direktur Utama Bank Permata Ridha DM Wirakusumah menyatakan, kerja sama ini juga bertujuan meningkatkan penyaluran kredit perusahaan. Namun, ia tak menyebut pasti berapa tingkat bunga yang diberikan.
"Tergantung risiko rumah sakitnya, tapi yang pasti sangat kompetitif karena kami kan juga melihat kemampuan BPJS," tutur Ridha.