Krisis dan Lilitan Utang Venezuela, Si Negara Kaya Minyak

Agustiyanti, CNN Indonesia | Sabtu, 04/11/2017 21:00 WIB
Krisis dan Lilitan Utang Venezuela, Si Negara Kaya Minyak Pemerintah Venezuela mengaku tak bisa membayar seluruh utangnya. Negeri kaya minyak tersebut bahkan saat ini sudah didera krisis kemanusiaan. (REUTERS/Ueslei Marcelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhirnya mengaku, pemerintahannya tak bisa membayar seluruh utangnya. Ia pun mengaku Venezuela dan perusahaan minyak negara tersebut akan meminta restrukturisasi terhadap pembayaran utang.

Maduro menyebut, perusahaan minyak negara tersebut telah melakukan pembayaran utang U$ 1,1 miliar pada hari Kamis (2/11). Jumlah tersebut cukup besar untuk sebuah negara yang saat ini hanya memiliki dana US$10 miliar di bank.

"Tapi setelah pembayaran ini, mulai hari ini, saya memutuskan refinancing dan restrukturisasi utang luar negeri," kata Maduro dikutip dari CNN.com, Sabtu (4/11).


Venezuela saat ini sudah berada dalam krisis kemanusiaan, dengan orang-orang yang kekurangan makanan dan obat-obatan. Banyak yang tidak mampu membeli barang-barang dasar, karena harga meroket lebih cepat dari upah. Mata uang negara, bolivar, bernilai kurang dari sepersepuluh sen dolar Amerika Serikat (AS) saat ini.

Jika pemerintah Maduro tidak dapat mencapai kesepakatan baru dengan pemegang obligasi mengenai restrukturisasi, maka negara tersebut akan berakhir secara default.

Itu akan memicu serangkaian peristiwa yang berpotensi lebih buruk. Investor di AS dan tempat lain bisa memanfaatkan minyak Venezuela sebagai jaminan.

Minyak adalah satu-satunya sumber penerimaan eksternal yang masuk akal oleh pemerintah dan oleh karena itu satu-satunya cara untuk membeli makanan dan obat-obatan untuk 30 juta warganya. Karena pemerintah salah mengelola lahan pertanian yang luas, ia harus mengimpor hampir semua makanan.

Menyetujui jadwal pembayaran baru tidak mudah dilakukan dengan investor Wall Street. Lihat saja Argentina, pemerintahannya berjuang di pengadilan AS selama 15 tahun untuk menyelesaikan utangnya yang belum dibayar.

Pemerintah Argentina tutup dari pasar utang internasional selama masa itu, yang pada akhirnya melumpuhkan ekonominya. Warga Argentina menyebut investor "dana bajak laut" karena mereka membeli obligasi dengan harga murah dan kemudian menuntut pemerintah untuk mendapatkan pembayaran yang jauh lebih tinggi.

Kedua belah pihak mencapai penyelesaian pada awal 2016, tak lama setelah seorang pejabat Argentina baru mulai menjabat.

Pengalaman Venezuela di meja perundingan justru bisa jauh lebih buruk. Menurut firma riset Capital Economics, Venezuela berutang sekitar $ 65 miliar obligasi dalam mata uang asing, sebagian besar dalam dolar.

Venezuela juga berutang kepada China, Rusia, penyedia layanan minyak, perusahaan penerbangan dan perusahaan lain.

Negosiator utamanya juga memiliki masalah, karena tidak dapat melakukan bisnis di Amerika Serikat.

Maduro telah menunjuk Wakil Presiden Tareck El Aissami untuk memimpin upaya restrukturisasi utang. Pada bulan Februari, Departemen Keuangan AS menuduh El Aissami melakukan perdagangan narkoba dan membekukan asetnya di AS. Namun, El Aissami membantah tuduhan tersebut.

Sementara itu, Maduro dan yang lainnya di pemerintahannya menyalahkan Presiden Trump atas masalah utang Venezuela. Trump pada Agustus lalu memberikan sanksi melalui perintah eksekutif untuk melarang transaksi utang baru bagi pemerintahan Venezuela maupun perusahaan minyak negara tersebut.

Sanksi tersebut merupakan respons terhadap kediktaktoran Maduro karena, memaksakan menggelar pemungutan suara kontroversial yang berakhir ricuh hingga memakan belasan korban. (agi/agi)


ARTIKEL TERKAIT