Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pelemahan konsumsi terjadi pada barang-barang konsumsi, seperti konsumsi makanan dan minuman yang melambat dari 5,01 persen di tahun lalu ke 4,93 persen di tahun ini, serta konsumsi pakaian yang turun dari 2,24 persen ke 2 persen.
Namun, pertumbuhan signifikan terjadi pada konsumsi kebutuhan yang digunakan untuk mengisi waktu luang (leisure). Misalnya, pertumbuhan konsumsi restoran dan hotel yang tumbuh dari 5,01 di kuartal III tahun lalu ke 5,52 persen pada tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, ini murni terjadi karena pergeseran pola konsumsi, di mana golongan usia produktif lebih senang membelanjakan uangnya untuk mencari pengalaman ketimbang memiliki barang.
Meski demikian, Suhariyanto menuturkan, sumbangsihnya terhadap total konsumsi sepanjang kuartal lalu hanya di kisaran 15 persen. Sehingga, hasilnya tidak bisa menopang pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
“Kalau dilihat peningkatannya ya, sebenarnya tidak besar-besar amat. Tapi, kami yakin pergerakan antar waktunya ini mungkin akan naik terus,” paparnya.
Suhariyanto menambahkan, ada kecenderungan lapisan masyarakat menengah ke atas kini mulai menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung.
Hal ini terlihat dari Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang berhasil dihimpun mencapai Rp4.236 triliun per Agustus 2017 atau meningkat 9,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp3.858 triliun.
Sekadar informasi, nilai konsumsi rumah tangga secara harga konstan di kuartal III 2017 tercatat sebesar Rp1.372,1 triliun atau naik 3,46 persen dari posisi tahun sebelumnya Rp1.326,5 triliun.
Adapun, konsumsi menyumbang 55,68 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) atau turun dari periode yang sama tahun lalu 55,88 persen. (bir)