Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, pertumbuhan ini didorong oleh kinerja industri nonmigas dengan pencapaian 5,49 persen atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 4,77 persen.
Sementara, industri migas, seperti batu bara, serta pengilangan migas bergerak negatif sebesar 0,49 persen, meskipun pencapaiannya tahun lalu masih positif 3,89 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Industri makanan dan minuman bergerak membaik ke angka 9,46 persen yang utamanya didorong oleh peningkatan produksi kelapa sawit dan berdampak pada produksi CPO,” terang Suhariyanto di Gedung BPS, Senin (6/11).
Meski begitu, ada pula sektor manufaktur yang mengalami kemunduran, yakni industri barang galian bukan logam dengan pertumbuhan negatif 2,29 persen. BPS mengaku masih akan mengecek penyebab utamanya.
“Meski demikian, tren ini membaik terus. Bahkan, angka ini merupakan yang tertinggi sejak kuartal I 2016,” paparnya.
Angka ini juga terbilang membaik dibanding kuartal I dan kuartal II 2017, di mana industri manufakur masing-masing berkontribusi terhadap 0,92 persen dan 0,75 persen di pertumbuhan ekonomi periode tersebut.
“Namun, kami harap, pertumbuhannya bisa segera membaik di kuartal IV mendatang,” pungkasnya. (bir)