Soalnya, pergeseran pola konsumsi dari barang cenderung membuat masyarakat menahan belanja pakaian, dan makanan dan minuman. Sebaliknya, masyarakat justru memilih menyimpan uang mereka agar dapat digunakan untuk makan di restoran, menginap di hotel, serta liburan ke tempat-tempat wisata.
Direktur Bisnis Menengah BNI Putratama Wahju Setyawan mengatakan, cara perusahaan mengambil keuntungan dari pergeseran itu adalah dengan menambah porsi penyaluran kredit ke sektor bisnis menengah, khususnya perhotelan dan restoran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, penyaluran kredit ke perhotelan tetap punya sejumlah kriteria agar tidak menambah beban ke rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL). Saat ini, NPL sektor usaha perhotelan masih mini, yaitu 0,3 persen per 8 November 2017.
Saat ini, penyaluran kredit ke sektor perhotelan dan restoran telah mencapai Rp8 triliun atau sekitar 32 persen dari total seluruh kredit segmen bisnis menengah.
Sedangkan, penyaluran kredit perhotelan dan restoran segmen korporat telah mencapai Rp17 triliun dengan rasio kredit bermasalah sebesar 1,2 persen.
Tercatat, penyaluran kredit ke sektor perdagangan sebesar Rp4 triliun atau sekitar 19 persen dari total kredit segmen bisnis menengah. NPL-nya sebesar 4 persen. (bir)