"Kondisinya akan lebih baik karena semua indikator 2018 itu lebih baik dari indikator 2017. Proyeksi IMF dan Bank Dunia untuk negara-negara maju dan berkembang juga meningkat," kata Wimboh dikutip dari Antara, Jumat (10/11).
Wimboh menjelaskan, tekanan geopolitik yang belakangan ini banyak terjadi kini sudah mulai mereda tensinya. Di samping itu, permasalahan geopolitik tersebut juga tak banyak terhubung langsung dengan Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, ia juga berharap kondisi ekonomi China tahun depan mengalami pertumbuhan yang lebih positif. Dengan demikian, kebutuhan impor negara tersebut terhadap produk Indonesia diharapkan kembali meningkat.
"Itu akan positif bagi kita. Ini yang lebih mungkin mendorong bahwa kita akan lebih baik di 2018," ucap Wimboh.
"Pasar modal sangat antusias, pertumbuhannya tahun ini cukup tinggi sehingga kini sudah hampir Rp200 triliun sampai bulan terakhir, dan ini tetap akan naik hingga Rp222 triliun sampai Desember. Ini sudah melampaui target kami," ucap Wimboh.
Lihat juga:Survei BI: Penjualan Ritel Lesu di September |
"Masyarakat bisa mencetak kaos lebih banyak dan 'spending' lebih banyak. Ini positifnya kami ambil, kita juga sudah bertahun-tahun pilkada baik tidak ada masalah," pungkasnya. (agi)