"Dalam kurun waktu 2013-2015, Direktorat Jenderal IKM telah membina beberapa pondok pesantren dengan pelatihan tematik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi industri yang ada di pondok pesantren," tutur Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih melalui siaran pers, kemarin (11/11).
Berdasarkan data Kementerian Agama 2014 lalu, pondok pesantren yang ada di Indonesia tercatat sebanyak 27.290 lembaga dengan jumlah santri mencapai 3,65 juta orang. Ini merupakan potensi bagi penumbuhan wirausaha baru dan sektor IKM di Tanah Air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Model Santri Berindustri, ia menjelaskan, fokus pada pengembangan unit industri yang telah ada dan sumber daya manusia di lingkungan pondok pesantren yang terdiri dari santri dan alumni santri.
Program selanjutnya yang akan dilakukan adalah bimbingan teknis pembuatan lampu LED dan revitalisasi industri garam.
Guna menyukseskan program Santripreneur ini, Bank Indonesia (BI) turut andil dalam memfasilitasi inkubator bisnis syariah mengenai keuangan mikro syariah dan nonkeuangan seperti agrobisnis serta perdagangan dan jasa.
Beberapa program yang diberikan, antara lain pelatihan motivasi usaha dan penyusunan bisnis plan, Pelatihan rapid rural appraisal (RRA), penyusunan feasibility study (FS), pelatihan strategi marketing, serta pelatihan hukum bisnis, fiqih mualah dan akad perbankan syariah.
Bekerja sama dengan bank sentral, Kemenperin ikut berpartisipasi dalam kegiatan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017 di Surabaya, dengan mengisi delapan gerai yang terdiri dari peserta IKM komoditas pangan, klinik kemasan, dan merek serta gerai hak kekayaan intelektual.
ISEF merupakan salah satu acara ekonomi dan keuangan syariah terbesar dan terdepan di Indonesia dengan mengintegrasikan pengembangan sektor keuangan dengan perekonomian sektor riil.
ISEF turut mengundang 80 Pimpinan dari perwakilan Pondok Pesantren besar seluruh pelosok Indonesia dan para penggiat ekonomi syariah. (bir)