Harga Minyak Dunia Kurang Bergairah pada Awal Pekan

Yuli Yanna Fauzie , CNN Indonesia | Selasa, 14/11/2017 08:47 WIB
Harga Minyak Dunia Kurang Bergairah pada Awal Pekan Harga minyak mentah dunia kurang bergairah pada penutupan perdagangan awal pekan ini, Senin (13/11) kemarin, dipicu oleh sejumlah isu pekan lalu. (REUTERS/Sergei Karpukhin).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia kurang bergairah pada penutupan perdagangan awal pekan ini, Senin (13/11) kemarin, dipicu oleh sejumlah isu pekan lalu.

Beberapa di antaranya, terkait ketegangan di Timur Tengah, pertaruhan harga dari para manajer investasi, hingga meningkatnya produksi minyak Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$0,36 per barel atau sekitar 0,6 persen menjadi US$63,16 per barel. Brent tercatat menurun tajam dari pekan lalu yang mampu mencapai level tertinggi sejak Juni 2015 di angka US$64,65 per barel.


Sementara itu, harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,02 per barel atau 0,03 persen menjadi US$56,76 per barel. Padahal, pekan lalu WTI juga mencatat rekor tertinggi sejak Juli 2015 mencapai US$57,92 per barel.

Dari sisi ketegangan di Timur Tengah, rupanya membuat pasar cukup khawatir. Salah satunya karena permasalahan internal pemerintahan Arab Saudi yang dikhawatirkan mempengaruhi stabilitas politik di produsen minyak terbesar di kawasan ini. Meski, ada potensi jumlah produksi minyak mentah dari Arab Saudi meningkat.

"Kenaikan produksi oleh Arab Saudi untuk menghasilkan lebih dari 10 juta barel per hari akan bertambah," kata John Kilduff Partner dari Again Capital.

Selain itu, Arab Saudi juga tengah bersitegang dengan Iran lantaran konflik di Yaman. Faktor lain yakni, adanya gempa yang melanda Iran dan Irak yang dikhawatirkan mempengaruhi produksi minyak dari kawasan ini.


Dari sisi pertaruhan harga para manajer investasi, hal itu terjadi lantaran ada sinyal perpanjangan pembatasan produksi minyak mentah oleh Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).

OPEC memperkirakan permintaan minyak akan lebih tinggi pada 2018 mendatang, namun tetap memberi sinyal pembatasan produksi tersebut. Adapun tingkat persediaan minyak mentah yang dipegang oleh industri dalam kurun waktu rata-rata lima tahun ke atas, telah turun sekitar 50 persen pada 2017 ini atau sekitar 160 juta barel saat ini.

"Jika tren saat ini terus berlanjut, persediaan kemungkinan akan kembali ke rata-rata lima tahun pada tahap tertentu di tahun 2018," kata konsultan Timera Energy.

(lav)


BACA JUGA