Batu Bara Indonesia Siap Kuasai pasar industri di China

Galih Gumelar , CNN Indonesia | Selasa, 14/11/2017 12:48 WIB
Batu Bara Indonesia Siap Kuasai pasar industri di China Batu bara asal Indonesia diklaim siap menguasai pasar China, seiring pesatnya pertumbuhan sektor industri di Negeri Tirai Bambu. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Batu bara asal Indonesia diklaim siap menguasai pasar China, seiring pesatnya pertumbuhan sektor industri di Negeri Tirai Bambu.

Atase Perdagangan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing Dandy Satria Iswara menjelaskan, pertumbuhan sektor industri China membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha batu bara Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor ke China.

Pada 2017, ekspor batu bara dari Indonesia ke China tercatat menghasilkan devisa senilai US$1,68 miliar atau meningkat dari tahun lalu yang hanya US$1,03 miliar. Namun posisi Indonesia masih berada di bawah Australia yang pada tahun ini nilai ekspornya mencapai US$6,51 miliar.

"Kualitas batu bara kita nomor satu di China. Oleh sebab itu, mesti dimanfaatkan ajang seperti CCME itu," kata
Dandy dalam keterangan pers, Selasa (14/11).


Menurut Dandy, kadar sulfur batu bara Indonesia lebih bagus dibandingkan kompetitor utama dari Australia. Tak hanya itu, China juga menghasilkan batu bara dengan kadar sulfur tinggi yang menimbulkan polusi. Alhasil, industri membutuhkan batu bara dari Indonesia sebagai bahan campuran dalam menggerakkan sejumlah alat pembangkitan energi listrik.

Namun, khusus batu bara ringan, Indonesia telah menjadi pengekspor nomor satu dengan mencapai 87,48% pada tahun lalu. Rusia dan Mongolia terus menguntit posisi Indonesia, setelah Korea Utara dikenai sanksi larangan ekspor akibat uji coba senjata nuklir.

Rendy Halim, Chief Executive Officer PT Borneo Pasifik Global (BPG) selaku produsen batu bara nasional menyampaikan, pihaknya berharap dapat memperkuat daya saing bara bara asal Indonesia, tidak hanya di China, namun juga untuk berekspansi lebih luas di pasar internasional.

Salah satu strateginya ialah menghadiri The 17th China Coal and Mining Expo (CCME) di Beijing, China. “Kami berharap kehadiran kami akan membuka kesempatan lebih besar untuk memasuki pasar internasional, sehingga berdampak positif bagi perekonomian Indonesia,” kata Rendy.


CCME merupakan pameran pertambangan batu bara di China yang diadakan setiap dua tahun sekali. Pameran bertema 'Intelligent Manufacturing, Leading the Future' ini diikuti hampir 400 perusahaan dari 18 negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan Jerman.

Rendy menambahkan, perusahaan berupaya agar konsumen industri, perusahaan pembangkit listrik hingga investor pertambangan dan energi dari China bisa lebih memahami regulasi dan iklim usaha Indonesia.

BPG memulai ekspor ke China pada 2015 dengan volume awal mencapai ratusan ribu ton per tahun. Setahun kemudian, ekspor ke China tumbuh mencapai 180%. Pada akhir 2017, secara kumulatif pertumbuhan ekspor ke China akan mencapai 310%.

Volume ekspor ke China ini setara dengan 55% total volume ekspor batu bara BPG dengan pasar utama antara lain, China, India, Vietnam, Filipina, Thailand, Korea Selatan dan Bangladesh.

(lav)