BI sebelumnya meramal pertumbuhan listrik ada di kisaran 10-12 persen. Namun, melihat kondisi kredit yang lesu ditengah tahun, BI kemudian memangkas pertumbuhan kreditnya menjadi 8-10 persen.
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, sikap ini diambil lantaran capaian pertumbuhan kredit sampai September lalu baru 7,86 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Padahal, capaian tersebut sebenarnya menunjukkan peningkatan dibandingkan Agustus yang sempat menurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Agus melihat dari sisi permintaan dan penawaran kredit memang belum benar-benar pulih. Dari permintaan, secara umum para perusahaan masih berada dalam tahap konsolidasi.
Adapun tahap konsolidasi ini dilakukan dengan cara mengendalikan berbagai biaya operasional hingga mempertimbangkan pengambilan kredit baru. "Makanya sekarang ini mereka belum ajukan permintaan," imbuh Agus.
Tercatat, NPL gross September 2017 sebesar 2,9 persen. Sedangkan NPL net pada bulan yang sama sebesar 1,3 persen.
"Jadi faktor permintaan dan penawaran ini berdampak pada pertumbuhan kredit yang masih lemah," tekannya.
Ke depan, BI berharap intermediasi perbankan bisa lebih baik, sehingga membuat pertumbuhan kredit terangkat. BI pun menurut dia, telah berupaya mendorong pertumbuhan kredit dengan pelonggaran kebijakan moneter berupa penurunan suku bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR).
"Kalau ekonomi sedang naik, maka CCB akan dinaikkan. CCB merupakan makroprudensial yang kembali ditetapkan BI sebesar nol persen. Artinya, ini memfasilitasi pertumbuhan kredit untuk perbankan," kata Mirza. (agi)