Window dressing merupakan strategi yang dilakukan oleh perusahaan manajer investasi untuk mempercantik portofolio atau performa keuangan sebelum ditampilkan kepada klien atau pemegang saham.
Selain manajer investasi, emiten juga kerap kali melakukan hal ini agar harga saham tampak positif pada laporan keuangan tahunan atau annual report.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejauh ini sebenarnya tidak ada yang menarik. Ini naik karena euforia jelang akhir tahun saja," tutur Wijen kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (20/11).
"Kemudian rupiah juga masih di situ-situ saja, masih sekitar Rp13.500 per dolar Amerika Serikat (AS)," sambung Wijen.
"Rentang pergerakan agak lebar untuk satu pekan, bisa di level 5.920 sampai 6.150," pungkas Wijen.
Sependapat, Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya juga meramalkan IHSG dapat bergerak di teritori positif dengan rentang support 5.972 dan resistance 6.123.
"Hal ini terlihat dari sisi fundamental perekonomian yang masih cukup kuat" papar William dalam risetnya.
William menilai, pola pergerakan IHSG sejatinya masih dalam tren kenaikan dalam jangka pendek dan panjang. Sementara itu, jika terjadi momen koreksi, maka pelaku pasar diharapkan melakukan akumulai beli.
Lihat juga:IHSG Menghijau di Perdagangan Akhir Pekan |
Sekadar informasi, IHSG sepanjang pekan lalu menguat 0,49 persen ke level 6.051. Kemudian, nilai kapitalisasi pasar naik 0,42 persen menjadi Rp6.693 triliun.
Hal ini tidak sejalan dengan kondisi bursa saham Wall Street yang negatif pada akhir pekan lalu. Terpantau, Dow Jones turun 0,43 persen, S&P500 terkoreksi 0,26 persen, dan Nasdaq Composite melemah 0,15 persen. (agi)