Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan, sampai sejauh ini, perusahaan melihat sebanyak Rp30 triliun hingga Rp50 triliun dari kebutuhan belanja modal akan berasal dari dana eksternal. Artinya, porsi pinjaman dalam investasi PLN ke depan berkisar 30 persen hingga 50 persen.
Angka tersebut masih akan disesuaikan kembali dengan mempertimbangkan posisi kas internal perusahaan di akhir tahun nanti. “Kami punya investasi yang cukup besar, sebagian dari angka itu bisa didapatkan (pendanaannya) melalui fund raising,” ujar Sarwono, Rabu (29/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, PLN juga akan kembali menerbitkan Kredit Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) atas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya yang sebelumnya telah ditawarkan ke investor dan tercatat oversubscribe alias kelebihan permintaan sebanyak 2,7 kali pada September silam.
Dengan reprofiling, PLN berharap bisa menurunkan beban bunga Rp1,2 triliun per tahun dari sebelumnya Rp18,28 triliun di 2016.
“Kami kemarin sudah lakukan reprofiling dalam jumlah besar. Tahun depan mungkin ada reprofiling, tapi mungkin nilainya juga tidak besar,” ujarnya.
“Artinya apa, utang hanya Rp60 triliun. Lebih kecil dari kas internalnya,” pungkas Sarwono.
Mengutip laporan keuangan per September 2017, liabilitas perseroan tercatat Rp429,32 triliun atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya Rp393,77 triliun. (bir)