CNNIndonesia.com sempat menyambangi dua gerai Sports Station di Kota Kasablanka dan Grand Indonesia Mall, Jakarta, Minggu (3/12). Dari penelusuran tersebut, memang, Crocs harus berbagi lapak dengan merek-merek senior, seperti Adidas dan Diadora di gerai Sports Stations.
Informasi dari laman resmi Crocs.com, merek alas kaki yang populer di Indonesia mulai tahun 2007 silam itu hanya tersisa di enam gerai Sports Station di mal-mal Jakarta. Antara lain, Kuningan City, Pacific Place, Plaza Senayan dan Mall Alam Sutra, Grand Indonesia, dan Grand Metropolitan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut salah satu karyawan Sports Station di Kota Kasablanka, Crocs sempat memiliki gerai yang berdiri sendiri, sebelum bergabung bersama Sports Station. Itu pun, Crocs hanya dipamerkan di tiga rak terdepan gerai.
“Iya, barangnya memang tinggal yang ini saja. Dulu, memang pernah ada sendiri (toko), tetapi sekarang jadi satu dengan gerai Sports Station,” ujar salah satu karyawan Sports Station di Kota Kasablanka kepadayang enggan disebut namanya.
“Penjualan masih ramai, makanya kehabisan stok untuk model ini,” jawabnya karyawan itu.
Di Grand Indonesia Mall, Crocs malah berbagi lapak dengan gerai dari merek Footgear. Karyawan di toko ini juga bilang bahwa kini jarang ada gerai Crocs yang berdiri sendiri.
“Memang, sudah jarang sih yang sendiri (toko). Cuma disini saja yang besar, satunya di Gandaria City dan Taman Anggrek. Yang lain, paling lapak-lapak kecil saja barengan dengan merek lain,” imbuhnya.
Ditanya mengenai isu penutupan sejumlah lapak Crocs, karyawan Footgear di Grand Indonesia Mall menepis hal tersebut. Menurut dia, penjualan sepatu dengan model unik ini masih sangat ramai. “Nggak bakal tutup,” tegas dia.
Marketwatch.com juga menyebut bahwa saham Crocs.Inc merosot setelah pendapatan perusahaan berada dibawah ekspektasi. Bahkan, lebih rendah dari periode sebelumnya. Hingga kuartal ketiga, pendapatan perusahaan turun menjadi US$243,3 juta dari posisi sebelumnya US$245,9 juta.
Kerugian perusahaan mencapai US$2,3 juta. Namun demikian, kerugian perusahaan kuartal ketiga tersebut masih lebih baik bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dimana perusahaan tercatat buntung hingga US$5,4 juta. (bir)