Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, peluncuran gerbang pembayaran ini untuk menjawab seluruh kebutuhan transaksi perbankan yang terus meningkat dari hari ke hari, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan pesatnya teknologi.
Hal ini ditandai dengan kian maraknya pembayaran masyarakat di toko ritel dan lainnya melalui mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan sistem perekam data elektronik (Electronic Data Capture/EDC). Sehingga, pihak perbankan kerap menambah mesinnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Saham Perbankan Diterpa 'Gairah' Positif |
Sayangnya, penambahan mesin oleh masing-masing bank, ia menilai, justru tak efisien. Sebab, seharusnya mesin tiap perbankan bisa digunakan bersama, sehingga penambahan mesin ATM dan EDC baru justru bisa disebar ke daerah-daerah lain. Hal ini membuat pelayanan perbankan lebih efektif menjangkau seluruh masyarakat.
"Jadi, untuk tahap awal, telah ditetapkan merchant discount rate 1 persen per transaksi off us (antar bank) dari 2-3 persen yang sekarang berlaku," katanya.
Kemudian, dalam gerbang pembayaran ini, BI juga mewajibkan agar tiap-tiap bank bekerja sama dengan minimal dua lembaga switching.
Selain itu, gerbang pembayaran akan membuat seluruh data transaksi terekam dalam satu sistem, sehingga mempermudah BI dan pemerintah untuk membuat kebijakan ke depan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Termasuk juga untuk mendukung penuh program pemerintah, seperti pemberian bantuan sosial, elektronifikasi jalan tol, hingga keuangan inklusif.