Pasokan BBM AS Naik, Harga Minyak Dunia Tertekan

Safyra Primadhyta , CNN Indonesia | Kamis, 07/12/2017 07:10 WIB
Pasokan BBM AS Naik, Harga Minyak Dunia Tertekan Harga minyak mentah dunia terseret hampir 3 persen pada perdagangan Rabu (7/12), waktu Amerika Serikat (AS). (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia terseret hampir 3 persen pada perdagangan Rabu (7/12), waktu Amerika Serikat (AS). Hal itu terjadi karena peningkatan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) AS yang mengindikasikan penurunan permintaan. Secara harian, penurunan tersebut merupakan yang terbesar dalam dua bulan terakhir.

Dilansir dari Reuters, Kamis (7/12), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berjangka CLc1 turun US$1,66, atau 2,9 persen, menjadi US$55,96 per barel. Harga tersebut merupakan harga penutupan perdagangan terendah sejak 16 November lalu dan penurunan harga harian terendah sejak 6 Oktober 2017.

Hal sama juga terjadi pada harga minyak Brent di pasar berjangka yang merosot US$1,64, atau 2,6 persen, menjadi US$61,22 per barel, harga penutupan terendah sejak 2 November 2017.

Data pemerintah AS menyatakan pasokan bensin AS naik 6,8 juta barel dan persediaan minyak distilasi meningkat 1,7 juta barel. Realisasi itu lebih tinggi dibandingkan hasil polling yang dibuat Reuters sebelumnya.

Analis menyatakan data mengejutkan tersebut memukul harga minyak mentah dan olahannya di pasar. Padahal, pasar cenderung pada posisi mendorong harga naik (bullish) dan rentan terhadap aksi jual.

Persediaan bensin memang cenderung meningkat di bulan Desember, namun pada level 221 juta barel. Tahun ini, persediaan sedikit di atas rata-rata dalam lima tahun terakhir.

"Persediaan bensin saat ini menumpuk seiring dengan melonggarnya permintaan, meskipun menghadapi permintaan ekspor yang wajar. Harga bensin berjangka jelas menembus level pendukung teknis dan ULSD (diesel) berjangka sedang mencobanya (menembus level pendukung)," ujar David Thompson, Wakil Presiden Eksekutif Powerhouse, perusahaan broker komoditas di Washington.

Penurunan harga bensin di pasar berjangka menyeret harga minyak. Harga RBOB RBc1 melorot 3 persen menjadi US$1,66 per galon. Minyak panas HOc1, proksi harga diesel, kehilangan 2,6 persen menjadi US$1,86 per galon.

Data Badan Administrasi Informasi Energi (EIA) AS juga menunjukkan stok minyak mentah AS turun 5,6 juta barel, lebih dari perkiraan. Hal itu sebagian disebabkan oleh penutupan pipa minyak Keystone pasca kebocoran di Dakota Selatan pertengahan November lalu. Meskipun telah beroperasi sebagian pada pekan lalu, namun kejadian tersebut sempat memangkas aliran ke hub minyak di Cushing, Oklahoma.

Produksi minyak mentah AS meningkat menjadi 9,7 juta barel per hari (bph) yang merupakan rekor mingguan. Kenaikan tersebut kemungkinan bakal mengganggu upaya Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia, dan negara produsen minyak lain untuk memangkas pasokan.

Sebelumnya, OPEC dan sekutunya memutuskan untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi minyak sebesar 1,8 juta bph dari Maret 2018 menjadi akhir 2018. Keputusan itu diambil pada pertemuan OPEC di Wina, Austria, pada 30 November lalu. Pemangkasan yang telah dilakukan sejak awal tahun ini itu telah mendongkrak harga minyak Brent lebih dari 40 persen sejak Juni 2017.

Saat ini, harga tergelincir dari puncaknya pada November lalu yang merupakan capaian tertinggi dalam dua tahun terakhir.

"Dukungan terhadap harga minyak mentah yang berasal dari sentimen bisa dibilang mengkhawatirkan karena pelaku pasar melihat lebih jauh dari pertemuan OPEC pekan lalu," ujar Analis Energi Senior Interfax Energy's Global Analytics Abhisek Kumar di London.

Menteri Perminyakan Rusia Alexander Novak mengungkapkan masih terlalu dini untuk keluar dari kesepakatan OPEC, dan prosesnya nanti akan dilakukan secara bertahap.

Goldman Sachs pernah mengatakan kenaikan permintaan yang diharapkan terjadi tahun depan kemungkinan bakal diimbangi oleh naiknya pasokan dari AS dan Kanada.

Produksi minyak AS telah naik 15 pesen sejak pertengahan Juni menjadi 9,7 juta bph, mendekati level produsen minyak kelas atas seperti Rusia dan Arab Saudi.

"Terhadap produksi AS, kami masih kelabakan melihatnya (produksi minyak) naik lebih tinggi. Hanya akan terjadi kenaikan produksi yang sangat problematis bagi kepatuhan kesepakatan OPEC dan non-OPEC," ujar partner Again Capital John Kilduff di New York. (lav/lav)