Akhir Pekan, Rupiah dan Harga Komoditas Warnai Gerak IHSG

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Jumat, 08/12/2017 07:59 WIB
Akhir Pekan, Rupiah dan Harga Komoditas Warnai Gerak IHSG Indeks Harga Saham Gabungan akhir pekan ini bakal diwarnai sejumlah sentimen negatif, antara lain pelemahan rupiah dan fluktuasi harga komoditas. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir pekan ini bakal diwarnai oleh sejumlah sentimen negatif. Salah satunya berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Ditambah lagi dengan pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (akan memberikan warna dalam pergerakan IHSG)," papar analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya, dikutip Jumat (8/12).

Rupiah lagi-lagi memang bergerak melemah pada perdagangan kemarin dan ditutup turun 0,06 persen menjadi Rp13.554 per dolar AS.

Tak hanya itu, William juga berpendapat, IHSG akan dipengaruhi oleh harga komoditas yang masih berfluktuasi. Beberapa komoditas yang tercatat melemah tadi malam, misalnya harga minyak dunia WTI Crude Oil yang terkoreksi 0,14 persen dan emas turun 0,33 persen.

Kendati demikian, IHSG tetap berpotensi menguat karena didukung oleh kondisi fundamental ekonomi dalam negeri yang dinilai masih cukup positif.

"Peluang kenaikan IHSG kembali nampak terlihat dalam pergerakan yang terjadi," terang William.

Ditengah adanya sentimen positif dan negatif ini, William memprediksi, IHSG bergerak dalam rentang support 5.963 dan resistance 6.099.

Sementara itu, Kepala Riset First Asia Capital David Sutyanto mengungkapkan, kondisi pasar saham global bakal memberikan amunisi tambahan bagi laju IHSG.

Terpantau, bursa saham Wall Street berujung di teritori positif tadi malam. Dow Jones dan S&P500 sama-sama menguat 0,29 persen, sedangkan Nasdaq Composite tumbuh 0,54 persen.

"IHSG diperkirakan bergerak di kisaran support 5.980 hingga resistance di 6.030," paparnya.

Selanjutnya, IHSG juga akan dipengaruhi oleh data ekonomi dalam negeri berupa cadangan devisa bulan November 2017. Kemudian, pelaku pasar juga menanti data ekspor dan impor China bulan November 2017.
(lav/lav)