Pasalnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pertumbuhan ekonomi dalam negeri diiringi dengan perbaikan pada indikator sosial, seperti tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, dan ketimpangan.
"Paling tidak tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, dan Gini Ratio turun. Indikator kita dua tahun terakhir sebetulnya walau pertumbuhannya tidak tinggi sekali, sekarang pada angka 5-5,1 persen, tapi ia diiringi dengan perbaikan indikator lain yang menunjuk pada kualitas pertumbuhan," ujarnya menjadi pembicara kunci dalam Seminar Outlook Industri 2018, mengutip ANTARA, Senin (11/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masih ada satu indikator lain yang jarang dikemukakan oleh para analis, yaitu peran sektor industri sebagai motor penggerak ekonomi, namanya perubahan struktural dalam perekonomian atau perubahan struktur ekonomi. Kalau dibarengi lagi dengan perubahan struktur ekonomi, maka tidak ada keraguan pertumbuhan ekonomi itu berkualitas," katanya.
Selain itu, lanjut Darmin, pertumbuhan ekonomi saat ini juga diiringi dengan laju inflasi yang relatif terkendali, di mana dalam tiga tahun terakhir inflasi semakin rendah dan bergerak menuju angka tiga persen.
"Tingkat harga-harga tiga tahun terakhir itu berkisar di antara 3 persen-3,5 persen. Itu tidak pernah kita alami secara konsekutif atau berturut-turut, bahkan di masa pemerintahan Orde Baru pada waktu pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, lebih tinggi dari sekarang 7-8 persen, pasti tingkat inflasinya 'double digit'," terang dia.
Untuk laju inflasi sepanjang tahun ini, Darmin memperkirakan, laju inflasi akan mencapai 3,1 persen, lebih rendah dibandingkan target pemerintah dalam APBN-P 2017 yang sebesar 4,3 persen.
"Inflasi November kan 2,9 persen, sehingga akhir tahun tidak akan meleset banyak dari 3,1 persen," pungkasnya. (bir)