Tercatat penambahan penyaluran kredit perbankan sebesar Rp228 triliun sampai November 2017. Secara persentase, pertumbuhan kredit perbankan per November 2017 hanya tumbuh di angka 7,47 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sedangkan pendanaan dari pasar modal menembus Rp257,02 triliun. Bahkan, capaian pendanaan dari pasar modal telah melampaui target yang dibidik, yakni Rp217,02 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Wimboh, sebetulnya, OJK menyambut positif tingginya pendanaan dari pasar modal. Sebab, hal ini sebagai pertanda bahwa instrumen pembiayaan jangka panjang, khususnya bagi proyek infrastruktur sudah semakin beragam.
Wimboh menyadari bahwa tahun ini menjadi masa yang tidak mudah bagi industri perbankan untuk unjuk gigi. Sebab, perekonomian yang cukup lesu rupanya langsung membuat bank-bank terpukul dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL).
Hal ini membuat bank perlu menahan diri untuk menyalurkan kreditnya. Di sisi lain, bank harus fokus untuk membenahi kredit yang telah diberikannya ke debitur, melalui restrukturisasi hingga penghapusan buku.
Adapun, pada tahun depan, OJK memasang target pertumbuhan kredit perbankan di kisaran 10-12 persen (yoy). Sedangkan tahun ini, OJK merevisi target ke posisi 8-9 persen saja dari sebelumnya sebesar 11,86 persen berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB).
Kendati OJK memasang target lebih tinggi pada tahun depan, namun Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, proyeksi itu sebenarnya jauh lebih konservatif dan realistis dibandingkan target yang disampaikan industri.
“Tapi, kalau melihat industri, yang tercermin dalam RBB, itu lebih positif lagi karena mereka targetkan 12,23 persen. Artinya, lebih tinggi dari outlook (prospek) kami,” pungkasnya pada kesempatan yang sama. (bir)