Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pertama, muncul bila pemulihan perekonomian dunia tidak sebaik yang diperkirakan. Sehingga, di bawah ekspektasi banyak kalangan.
"Diperkirakan ekonomi global akan membaik, tapi kalau tidak seperti itu, tentu itu sebuah risiko," ujarnya dalam konferensi pers akhir tahun BI, Kamis (28/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Rupiah Mengilap, IHSG Cetak Rekor Baru 6.314 |
Lalu, bank sentral AS, The Federal Reserve, juga telah mengumumkan akan mengerek kembali suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) sebanyak tiga kali pada tahun depan, setelah menaikkan pada akhir tahun ini.
Selain dari empat risiko tersebut, Agus bilang, ada pula risiko bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berasal dari kerentanan sistem keuangan global. Hal ini ditunjukkan dari perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan (Price Earning Ratio/PER) Indonesia yang masih rendah.
"Saat ini, PER Indonesia 14,5 persen. Padahal, negara lain, seperti Brazil, Argentina, AS, PER-nya sudah tergolong tinggi. Kalau ada koreksi tentu akan berdampak pada sektor keuangan," katanya.
Sementara, dari sisi domestik, Agus melihat, risiko terbesar berasal dari pertumbuhan indikator konsumsi rumah tangga yang menurun tahun ini. Sebab, indikator ini menjadi yang terbesar kontribusinya kepada pertumbuhan ekonomi.
"Ini satu hal yang perlu disikapi. Ini jadi perhatian. Kami harapkan, Indonesia ke depan masih bisa mendapatkan kontribusi besar dari konsumsi rumah tangga, maka harus diperhatikan," pungkasnya. (bir)