Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, sinyal pengaruh volatile food mulai terasa sejak Desember 2017. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi volatile food secara bulanan, sudah tembus 2,46 persen pada periode tersebut dan menyumbang inflasi sebesar 0,45 persen.
Di samping itu, ia juga menilai bahwa pemerintah tidak berencana untuk mengubah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) penugasan dan subsidi listrik di tahun depan, sehingga efek administered prices diperkirakan lebih kecil dari volatile food.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, pergerakan harga minyak mungkin bisa memengaruhi harga BBM non-penugasan, mengingat harganya ditentukan oleh badan usaha. Namun, menurutnya, ada kalanya kenaikan harga minyak justru tak berpengaruh signifikan terhadap inflasi.
“Saya rasa yang dua itu (harga minyak dan volatile food) harus diwaspadai. Kalau administered prices dampaknya mungkin lebih terasa di 2017, seperti harga listrik di semester pertama. Sepanjang tahun, saya lihat inflasi masih within range,” terangnya.
Menurut data BPS, inflasi pada tahun lalu tercatat di angka 3,61 persen. Adapun, penyumbang inflasi terbesar adalah komponen administered prices dengan angka 8,7 persen yang disusul oleh komponen inflasi inti sebesar 2,95 persen. (bir)