"Penurunan permintaan terjadi saat liburan. Ditambah dengan kembalinya produksi minyak AS, membantu untuk menahan penguatan harga baru-baru ini," tutur John Kilduff dari Again Capital, seperti dilansir Reuters, Senin (8/1).
Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediaries (WTI) turun US$0,57 menjadi US$61,44 per barel. Satu hari sebelumnya, harga WTI menyentuh level US$62,21 per barel, tertinggi sejak Mei 2015 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku pasar menilai tingginya tensi politik di Iran, produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), telah mendongkrak harga.
Selain itu, kesepakatan pemangkasan produksi yang dilakukan OPEC dan beberapa produsen minyak dunia, salah satunya Rusia, telah menopang harga minyak mentah dunia secara umum.
Pemangkasan sebesar 1,8 juta barel per hari (bph) telah dilakukan sejak Januari dan akan berakhir pada akhir tahun ini seiring dengan menguatnya pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan.
Angka itu turun 20 persen dari puncaknya pada Maret 2017 lalu dan mendekati rata-rata produksi lima tahun di level 420 juta barel. Berdasarkan data terakhir, produksi minyak AS naik 9,78 juta bph pada minyak terakhir.
Jumat lalu, perusahaan layanan energi Baker Hughes menyatakan pengebor minyak AS menghentikan operasional lima kilang di AS, sehingga total rig yang beroperasi menjadi 742. Jumlah rig yang menjadi indikator produksi di masa mendatang itu jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya 529 rig yang beroperasi.
Bank investasi asal AS, Jefferies, menyatakan harga minyak masih sulit diproyeksikan. Namun, pasar masih akan kekurangan pasokan (undersupplied) sepanjang tahun ini.
Ruecker dari Julies Baer menyatakan, proyeksi harga minyak di atas US$60 per barel merupakan proyeksi yang berlebihan.