“Tahun 2018 menjadi tahun pertama sejak krisis keuangan, dimana ekonomi global akan beroperasi atau mendekati kapasitas penuh,” demikian tertulis dalam laporan Prospek Ekonomi Global, mengutip Antara, Rabu (10/1).
Adpaun, pertumbuhan ekonomi dunia tahun lalu diprediksi mencapai 3 persen. Jika benar, angka ini terkuat sejak 2011 silam, sekaligus tonggak kebangkitan ekonomi global usai merealisasikan pertumbuhan yang hanya 2,4 persen pada 2016 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karenanya, ekonomi AS diperkirakan membukukan pertumbuhan 2,5 persen pada 2018, dengan proyeksi pertumbuhan tahun lalu sebesar 2,3 persen. Sementara itu, negara-negara emerging market dan berkembang diramal tumbuh 4,5 persen pada 2018 atau meningkat dari proyeksi pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 4,3 persen.
Lebih lanjut ia bilang, China akan terus melakukan langkah-langkah menghilangkan kelebihan kapasitas industri dan mengendalikan risiko-risiko dalam sistem keuangannya.
Ancaman Perlambatan Hingga 2020
Kendati proyeksi Bank Dunia cukup optimis di tahun ini, namun ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi kembali terjadi pada 2019 dan 2020 mendatang. Mengutip laporan Prospek Ekonomi Global, pertumbuhan ekonomi dunia kembali melambat menjadi hanya 3 persen pada 2019 dan 2,9 persen pada 2020.
Hal serupa juga terjadi pada perekonomian China. Namun, perlambatan ekonomi China mulai terjadi pada tahun ini dan terus menciut 6,3 persen pada 2019 mendatang.
Bank Dunia mengingatkan risiko-risiko pengetatan pembiayaan global, peningkatan pembatasan perdagangan, dan ketegangan politik akan menjadi ‘batu sandungan’. Akibatnya, produktivitas melambat, investasi lemah dan jumlah tenaga kerja susut.
Lihat juga:Jokowi: Kondisi Perekonomian Indonesia Sehat |
“Pemulihan berbasis luas dalam pertumbuhan ekonomi global sangat menggembirakan. Tapi, ini bukan saatnya untuk berpuas diri. Ini adalah kesempatan besar untuk investasi dalam sumber daya manusia,” imbuh Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. (antara/bir)