Kepala Penelitian CIPS Hizkia Respatiadi mengatakan, sebagai BUMN, posisi Bulog sebagai importir beras sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Hal tersebut menyebabkan Bulog tak memiliki kemampuan untuk membaca kebutuhan pasar.
"Akibatnya, peran Bulog menjadi tidak efekti. Dan, konsep pengimpor tunggal berarti menutup pasar bebas di Indonesia,” ujarnya mengutip Antara, Rabu (17/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, Hizkia melanjutkan, seharusnya pihak swasta juga memberikan kewenangan yang sama dengan Bulog agar terjadi persaingan sehat dan menutup kemungkinan kartel beras.
Menurut dia, pemerintah sebaiknya berperan sebagai regulator, seperti menentukan kriteria dan memverifikasi informasi yang diberikan oleh pihak swasta terkait kualifikasi mereka.
"Peran Bulog menjadi keniscayaan untuk dimaksimalkan dalam mengatasi defisit beras," kata Agus Hermanto di Jakarta, Senin (15/1).
Agus mengingatkan bahwa kepentingan petani harus diutamakan sehingga berbagai kebijakan yang dikeluarkan juga harus menunjukkan kepedulian dan keberpihakan terhadap kalangan petani. (antara/bir)