Indonesia dan Bangladesh Lanjutkan Perundingan Dagang

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Sabtu, 20/01/2018 09:51 WIB
Indonesia dan Bangladesh Lanjutkan Perundingan Dagang Indonesia dan Bangladesh sepakat merencanakan putaran pertama perundingan Indonesia-Bangladesh Preferential Trade Agreement (IB-PTA) pada semester I 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia dan Bangladesh sepakat merencanakan putaran pertama perundingan Indonesia-Bangladesh Preferential Trade Agreement (IB-PTA) pada semester I 2018. Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan pendahuluan IB-PTA di Jakarta.

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo menjadi delegasi Indonesia, dalam pertemuan ini. Sementara itu, delegasi Bangladesh dipimpin oleh Additional Secretary Ministry of Commerce of Bangladesh Tapan Kanti Ghosh.

“Indonesia dan Bangladesh menyadari besarnya potensi perdagangan yang bisa dimaksimalkan kedua negara. Sebagai negara yang perekonomiannya terus tumbuh serta didukung dengan jumlah penduduk yang signifikan, Bangladesh berpeluang besar menjadi salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia di masa mendatang,” jelas Iman dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (19/1).



Kesepakatan lain yang dicapai, lanjut Iman, yaitu mempercepat penyelesaian Terms of Reference (ToR) Trade Negotiating Committee (TNC) IB-PTA, serta segera membahas draf teks IB-PTA pada pertemuan pendahuluan berikutnya.

Iman menjelaskan, pertemuan pendahuluan kali ini menindaklanjuti hasil pertemuan Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina di sela-sela KTT IORA di Jakarta pada bulan Maret 2017.

Pada pertemuan tersebut, kedua Kepala Negara/Kepala Pemerintahan menyepakati pentingnya upaya peningkatan hubungan perdagangan kedua negara, salah satunya melalui pembentukan PTA antara Indonesia dan Bangladesh.

“Upaya menjalin kerja sama perdagangan dengan Bangladesh ini sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah RI untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan kerja sama perdagangan Indonesia dengan negara-negara nontradisional, khususnya di kawasan Asia Selatan,” tegas Iman.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai total perdagangan kedua negara pada tahun 2016 mencapai US$1,33 miliar. Neraca perdagangan Indonesia-Bangladesh pada tahun yang sama menunjukkan surplus bagi Indonesia sebesar US$1,19 miliar.

Bangladesh menempati peringkat ke-23 sebagai negara tujuan ekspor utama Indonesia dengan pangsa sebesar 0,9 persen, serta menempati urutan ke-63 sebagai negara sumber impor utama Indonesia dengan pangsa sebesar 0,1 persen.

Ekspor Indonesia ke Bangladesh pada periode Januari-Oktober 2017 tercatat sebesar US$1,31 miliar atau naik 25,8 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$1,04 miliar.


Komoditas ekspor andalan Indonesia ke Bangladesh adalah minyak kelapa sawit dan fraksinya, bubur kayu kimiawi, bangku penumpang untuk kereta atau trem, batu bara, serta kertas dan karton.

Sementara itu, impor Indonesia dari Bangladesh pada periode Januari-Oktober 2017 mencapai US$60,4 jutaatau naik 6,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$56,6 juta.

Komoditas impor utama Indonesia dari Bangladesh adalah benang goni, kaus, singlet dan rompi lainnya, karung dan tas, pakaian wanita, serta pakaian laki-laki. (bir)