Dilansir dari Reuters, Jumat (26/1), harga minyak mentah berjangka acuan Brent mampu menembus level US$71,28 per barel, tertinggi sejak awal Desember 2014. Pada pukul 11:39 siang EST, harga Brent menanjak US$0,31 menjadi US$70,84 per barel.
Sementera itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik US$0,44 atau 0,7 persen menjadi US$66,05. Sebelumnya, harga WTI merangkak ke level US$66,66, tertinggi sejak Desember 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jatuhnya nilai tukar dolar AS menyebabkan harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Hal ini cenderung mendorong kenaikan harga minyak.
"Hampir setiap kelompok komoditas (harganya) naik karena penurunan (nilai dolar AS) tambahan ini," sambungnya.
Penurunan secara tidak sengaja pada produksi minyak Venezuela pada beberapa bulan terakhir juga memperbesar efek dari pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC dan sekutunya tersebut.
Pemangkasan sebesar 1,8 juta barel tersebut telah dilakukan sejak Januari 2018. Namun, kenaikan produksi minyak shale AS mampu menyeimbangkan efeknya mengingat kenaikan harga minyak mendorong lebih banyak investasi untuk memperbanyak produksi.
Kemudian, stok minyak mentah AS terus menurun, menggarisbawahi ide bahwa pasokan global tengah kembali seimbang setelah sebelumnya membanjir.
"Proses menyeimbangkan kembali pada hal fundamental berlanjut," ujar McGillian.
Namun, ia mengingatkan bahwa kenaikan persedian nantinya berpotensi sebagai sinyal bakal turunnya harga (bearish).
Lebih lanjut, Badan Admisnistrasi Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan produksi minyak As bisa menembus level 10 juta barel per hari (bph) pada Februari mendatang, mendekati rekor tertingginya sepanjang masa, 10,4 juta bph, yang dicetak pada tahun 1970, serta menyusul produksi minyak Arab Saudi dan Rusia. (agi/agi)