Direktur Keuangan BTPN Arief Harris Tandjung menjelaskan, saat ini, modal inti perseroan berada di kisaran Rp16,8 triliun. Sedangkan modal inti Bank Sumitomo Mitsui Indonesia mencapai sekitar Rp8,7 triliun.
"Jika digabungkan, akhir tahun ini modal intinya bisa mencapai Rp27 triliun. Tahun depan, kalau rampung, bisa mencapai Rp30 triliun dan masuk BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha) 4," ujar Arief di Jakarta, Senin (29/1)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Arief belum bisa memastikan kapan proses merger rampung. Pasalnya, menurut dia, manajemen belum menentukan jadwal (timeline) proses merger.
Namun, entah ada angin apa, SMBC di tahun ini memutuskan untuk menggabungkan kedua bank-nya tersebut di Indonesia.
"Saya nggak tahu, alasannya apa, yang jelas mereka baru meminta kami untuk melakukan kan asessment untuk merger, baru kemarin. Mereka (SMBC) yang bisa jelaskan kenapa tahun ini," ungkap dia.
Selain SMBC, bank terbesar di Jepang, Bank of Tokyo Mitshubhisi Ufj (BTMU) di tahun ini juga memiliki ambisi untuk memperbesar bisnis banknya di tanah air tahun ini. Salah satunya, dengan mengakuisisi saham Bank Danamon hingga 73,8 persen secara bertahap. Saat ini, BTMU baru menyelesaikan akuisisi tahap pertama dan memiliki 19,9 persen saham Bank Danamon.
Sebelum membeli Bank Danamon, BTMU sebenarnya telah memiliki bisnis bank di Indonesia melalui kantor cabang bank asing (KCBA).Bukan tidak mungkin BTMU juga bakal mengintegrasikan kedua bisnis banknya tersebut, demi mengantongi restu OJK untuk memiliki saham mayoritas Bank Danamon. Pasalnya, sesuai ketentuan OJK, batas kepemilikan saham bank umum untuk lembaga keuangan sebesar 40 persen. (agi/bir)