Direktur Pengadaan Strategis PL Supangkat Iwan Santoso menjelaskan, tiga poin yang didiskusikan bersama pemerintah dan pengusaha, yakni harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), cost plus margin, dan diskon dari Harga Batu Bara Acuan (HBA).
"Tadi dibahas, kalau ini bagaimana, ini bagaimana, ini bagaimana. Kira-kira begitu, tapi karena bingung juga ya sudah," ujar Iwan, Senin (5/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk sekarang pemerintah belum memutuskan. Pemerintah katanya komitmen akan mengambil keputusan, tapi tidak akan seenaknya juga," tutur Iwan.
"Ketika jadi US$80 per metrik ton itulah berdampak (ada kerugian) Rp14 triliun, tapi kami tidak bisa minta ganti nih," jelas Iwan.
Secara terpisah, Direktur Utama PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Garibaldi Thohir atau Boy Thohir mengemukakan, kemungkinan besar penyesuaian harga batu bara untuk pembangkit listrik akan dilakukan secara business to business (bisnis ke bisnis) atau antara produsen batu bara dengan PLN langsung.
Semula, keputusan terkait patokan harga batu bara akan diputuskan dalam pembicaraan bersama pemerintah, PLN, dan pengusahn. Namun, diskusi yang digelar ketiga pihak tersebut hingga kini belum juga menghasilkan patokan harga batu bara yang spesifik untuk pembangkit listrik, termasuk juga jika harga ditentukan secara bisnis.
"Kami belum bicara sedetil itu, tapi tadi Pak Menteri memberikan waktu nanti Rabu atau Kamis depan harus ketemu lagi," terang Boy.
"Hanya memang faktor-faktornya tidak mudah ya, karena ada komponen royalti, pajak, ada bagian pemerintah daerah juga. Tapi kami sangat paham untuk mencarikan solusi," jelas Boy.
Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono enggan berkomentar banyak mengenai pertemuan antara pemerintah, pengusaha, dan PLN hari ini. Menurutnya, semua penentuan harga batu bara untuk pembangkit listrik masih dibahas.
"Belum ada keputusan, masih dibahas," ucapnya singkat. (agi)