Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan, pemangkasan biaya pencadangan dilakukan seiring turunnya rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) perseroan pada tahun lalu. Rasio NPL gross turun dari empat persen pada 2016 menjadi 3,46 persen, sedangkan rasio NPL net turun dari 1,53 persen menjadi 1,18 persen.
"Penyaluran kredit mencapai Rp729,5 triliun pada akhir tahun lalu, naik 10,2 persen (yoy). Kontribusi pembiayaan produktif mencapai 74,7 persen dari total portofolio," ujar Kartika di Jakarta, Selasa (6/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati kredit tumbuh 10,2 persen, pendapatan bunga bersih perseroan pada tahun lalu hanya naik 0,6 persen (yoy) menjadi Rp54,8 triliun. Pasalnya, margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) bank BUMN tersebut turun dari 6,44 persen menjadi 5,87 persen.
Sementara itu, pendapatan atas jasa (fee based income) perseroan naik 16,4 persen (yoy) menjadi Rp23,3 triliun.
Adapun berdasarkan segmennya, pertumbuhan kredit perseroan tahun lalu didorong segmen mikro yang naik 22,2 persen (yoy) menjadi Rp61,8 triliun dan korporasi yang naik 14,7 persen (yoy) menjadi Rp264,2 triliun.
Sementara itu, pada tahun lalu, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 7 persen (yoy) menjadi Rp815,81 triliun.
"Hingga akhir tahun lalu, pengumpulan dana murah perseroan tercatat bertambah Rp50,9 triliun, setara dengan kenaikan 10,4 persen (yoy) menjadi Rp540,3 triliun. Cost of Fud berhasil kami turunkan menjadi 2,73 persen dari posisi akhir tahun sebelumnya 2,93 persen," tambah dia. (agi)