Harga CPO Merosot, Harga Biodiesel Februari Diturunkan

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 08/02/2018 10:26 WIB
Harga CPO Merosot, Harga Biodiesel Februari Diturunkan Kementerian ESDM kembali menurunkan Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati yang meliputi biodiesel dan bioetanol, untuk periode Februari 2018. (Ilustrasi/Dok. Sampoerna Agro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menurunkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) yang meliputi biodiesel dan bioetanol, untuk periode Februari 2018.

Harga biodiesel ditetapkan sebesar Rp7.962 per liter atau turun tipis dari Januari 2018 lalu yang senilai Rp 8.000 per liter.

"Harga tersebut masih belum termasuk dengan perhitungan ongkos angkut yang berpedoman pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.2026 K/12/MEM/2017," ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi dan Kerjasama Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (8/2).

Agung mengungkapkan, penurunan ini terjadi akibat penyusutan harga minyak kelapa sawit pada perhitungan sesuai dengan ketentuan Surat Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Nomor 590/12/DJE/2018.


Penurunan HIP biodiesel ini ditopang oleh harga rata-rata minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) sepanjang 25 Desember 2017 hingga 24 November 2018 sebesar Rp 7.810 per kilogram (kg), lebih rendah pada periode sebelumnya, Rp7.841 per kg.

Penurunan terjadi pula pada HIP bioetanol. Harga pasar bioetanol ditetapkan sebesar Rp10.059 per liter oleh pemerintah setelah selama tiga bulan terakhir sempat naik dari Rp10.077 (November), Rp10.088 (Desember), dan Rp10.090 (Januari).

Faktor penurunan ini ditentukan oleh rata-rata tetes tebu Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) selama 25 Juli 2017 hingga 24 Januari 2018 tercatat sebesar Rp1.625 per kg ditambah besaran dolar Amerika Serikat, yaitu US$0,25 per liter dikali 4,125 kg per liter.

Sebagai informasi, HIP BBN ditetapkan setiap bulan dan dilakukan evaluasi paling sedikit 6 bulan sekali oleh Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM. (lav/lav)


BACA JUGA