"Ini sebenarnya hal yang normal. Kalau lihat 2017, kalau kenaikan (FFR) di Maret, ada fluktuasi di Februari. Kalau naik di Juni, fluktuasi di Mei. Jadi, kalau kami lihat ada kenaikan di Maret, berarti fluktuasi di Februari ini, ya normal-normal saja," ujar Mirza di Jakarta, Kamis (8/2).
Mirza menjelaskan, fluktuasi pada nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara. Pasalnya, investor memang terbiasa melakukan penyesuaian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Rupiah Melemah, IHSG Menguat ke Level 6.534 |
Kendati menilai fluktuasi rupiah saat ini masih normal, Mirza menekankan, Bank Indonesia akan terus berada di pasar.
Lihat juga:Kenaikan Cadev Jadi Motor Penggerak IHSG |
Pada Januari lalu, aliran dana asing yang masuk ke Indonesia mencapai lebih dari Rp46 triliun. Cadangan devisa Indonesia pun ikut menanjak dari US$130,2 miliar pada akhir Desember 2017 menjadi US$131,98 miliar.
Sebagai informasi, berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah melemah di kisaran Rp13.602 per dolar AS. Pada perdagangan di pasar spot hari ini, Rupiah bahkan sempat melemah hingga ke level Rp13.643 per dolar AS. Nilai tukar tersebut merupakan level terendah rupiah sejak tahun lalu.
----
Catatan redaksi: Pada Kamis (8/2) pukul 15.38 WIB redaksi mengubah judul dari semula "Tembus Rp16 ribu per Dolar AS, BI Sebut Rupiah Melemah Normal" menjadi judul saat ini karena adanya kesalahan saat penulisan. Atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan, kami meminta maaf. (agi)