Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kondisi ini terjadi lantaran pertumbuhan nilai ekspor secara bulanan (month-to-month/mom) Indonesia lebih kecil dibanding impornya. Memang, ekspor Indonesia pada bulan Januari tercatat US$14,46 miliar atau naik 7,86 persen dibanding Januari tahun sebelumnya yakni US$13,4 miliar. Hanya saja, angka ini lebih rendah 2,81 persen dibandingkan ekspor pada bulan Desember.
Menurut dia, ini disebabkan karena penurunan beberapa harga komoditas seperti harga kopra dan minyak kernel. Namun di sisi lain, terdapat peningkatan harga seperti batu bara dan nikel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, ekspor migas tercatat mengalami penurunan secara signifikan dengan angka minus 14,85 persen secara bulanan. Tak hanya itu, ekspor produk pertanian pun mengalami penurunan 6,76 persen dibanding bulan sebelumnya gara-gara penurunan harga. Namun, ia mencatat kenaikan ekspor dari lada putih, rumput laut, dan kopi.
Sementara itu, impor pada bulan Januari tercatat di angka US$15,13 miliar atau naik 0,26 persen dibanding bulan sebelumnya. Hanya saja, angka ini melompat signifikan dibanding Januari tahun sebelumnya yaitu 26,44 persen.
Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan impor tertinggi terjadi pada kelompok bahan baku dan bahan penolong yakni 2,34 persen month-to-month. Sementara itu, impor barang konsumsi dan barang modal juga menurun secara bulanan dengan angka 1,46 persen dan 7,39 persen.
Lihat juga:E-Commerce Masih Enggan Serahkan Data ke BPS |
Sayangnya, jika dilihat menggunakan jenis barang penggunaan, impor barang baik barang konsumsi, barang modal, dan bahan baku mengalami pertumbuhan dua digit secara tahunan. Adapun, masing-masing pertumbuhan itu tercatat 32,98 persen, 30,9 persen, dan 24,76 persen.
"Sebagian besar impor yang tinggi ini berasal dari mesin-mesin pesawat mekanik dan peralatan listrik," papar dia.
Dengan neraca yang tidak seimbang, maka neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit. Adapun, Indonesia mengalami defisit terbesar dengan China dengan nilai US$1,83 miliar, Thailnad yakni US$211,4 juta, dan Australia yakni US$178,2 juta.
"Kami harap defisit ini tidak berlangsung terus dan kinerja ekspor semakin baik kedepannya," lanjut dia. (agi/bir)