Pembangunan kereta cepat tersebut diperkirakan molor dan baru terealisasi pada Oktober 2020 atau 32 bulan setelah pembebasan lahan di Halim Perdanakusumah rampung pada bulan ini.
"Pencairan pertama dari China Development Bank (CDB) sekitar US$ 500 juta atau sekitar Rp 6 triliun. Sekarang belum dibutuhkan, karena masih menggunakan modal yang ada, yakni modal sendiri dari partner kami (China)," ujar Rini di Jakarta, Senin (19/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rini menjelaskan total pinjaman dari CDB untuk proyek tersebut mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp79,65 triliun. Pinjaman tersebut rencana akan dicairkan bertahap sesuai perkembangan proyek kepada PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
KCIC merupakan perusahaan patungan antara empat BUMN, yakni KAI, Wijaya Karya, PTPN VIII dan Jasa Marga, dengan China Railways.
"Sekarang sedang pembebasan lahan di Halim, kemungkinan rampung bulan ini. Mudah-mudahan 32 bulan lagi (kereta cepat Jakarta Bandung) selesai," terang dia.
Rini mengakui, pembangunan proyek tersebut memang agak molor dari jadwal. Pasalnya, proses pembebasan lahan proyek tersebut sempat molor. Kendati demikian, ke depan, ia berharap proses konstruksi yang dijadwalkan 32 bulan ke depan bakal tepat waktu.
"Sekarang (proyek) sudah diserahkan ke kontraktornya termasuk kontraktor kami (BUMN) dan kontraktor China," tambah dia. (lav)