Berdasarkan data ULN BI yang dirilis pada Senin (19/2), total ULN tersebut tumbuh 10,1 persen dibanding tahun sebelumnya (year on year/yoy). Peningkatan ULN terutama berasal dari utang pemerintah yang meningkat 29 persen dari 2016 sebesar US$137,4 miliar menjadi US$177,32 miliar.
Sementara itu, ULN swasta atau korporasi baik bank maupun nonbank hanya naik tipis sebesar 6 persen dari US$161,72 miliar menjadi US$171,62 miliar. Peningkatan ULN terutama terjadi pada korporasi nonbank yang naik dari US$131,48 miliar menjadi US$141m38 miliar, sedangkan ULN bank tetap di kisaran US$30,2 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan jangka waktu, struktur ULN Indonesia pada akhir tahun lalu, menurut BI, terbilang aman. ULN tetap didominasi ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,1 persen dari total ULN. Kendati demikian, dari sisi pertumbuhan, ULN jangka pendek tertcatat tumbuh lebih kencang sebesar 20,7 persen (yoy).
Bank Indonesia pun memandang perkembangan ULN pada akhir 2017 masih terkendali. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di akhir tahun lalu tercatat stabil di kisaran 34 persen. Selain itu, rasio utang jangka pendek terhadap total ULN juga relatif stabil di kisaran 13 persen.
Lihat juga:BI Minta Pemerintah Genjot Penerimaan Devisa |
"Kedua rasio ULN tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara peers," terang Agusman.
Bank Indonesia pun mengaku akan terus memantau perkembangan ULN dari waktu ke waktu untuk meyakinkan bahwa ULN berperan optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi.