Pemerintah semula memang merencanakan impor beras sebanyak 500 ribu ton. Namun, volume impor tersebut kemudian diturunkan menjadi 281 ribu tok. Adapun pengadaan beras terbatas pada 15 Januari dengan batas waktu kapal tiba pada 28 Februari 2018.
Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti menyatakan, jumlah stok beras Bulog khususnya yang berasal dari impor tersebut akan terus bergerak. Namun, Djarot memastikan bahwa hingga akhir Februari 2018 stok yang masuk gudang sebanyak 261.000 ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga beras khususnya kualitas medium tercatat sudah mengalami kenaikan tipis.
Harga tersebut sudah mengalami penurunan jika dibandingkan kondisi pada awal Februari 2018 yang tercatat sebesar Rp11.225 per kilogram.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan Enggarsito Lukita pada hari ini (27/2), memantau langsung stok beras pada Perum Bulog guna memastikan stok beras untuk menggelar operasi pasar jika diperlukan.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memantau langsung stok beras pada Perum Bulog, yang akan dipergunakan sebagai stok pemerintah menggelar operasi pasar (OP) jika diperlukan.
"Beras impor yang masuk, benar masuk di gudang Bulog sebagai cadangan. Kapan dikeluarkan, nanti pemerintah akan melihat perkembangan," terang Enggartiasto.
Enggartiasto mengatakan, kapan beras tersebut dikeluarkan, nantinya akan menggunakan skema operasi pasar jika diperlukan, untuk menurunkan harga beras sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan.
"Dalam OP, akan lebih masif untuk stabilisasi harga. Kita memastikan, beras impor itu kita pakai untuk cadangan. Tidak usah khawatir kita akan terus melakukan OP," jelasnya. (antara)