"Investor banyak. Ada dari Malaysia, Timur Tengah, lokal. Alhamdulillah, banyak," ujar Direktur Utama BMI Achmad K Permana di Muamalat Tower, Rabu (28/2).
Permana mengungkapkan, hingga kini perusahaan masih menimbang-nimbang investor yang akan menyuntikkan modal tambahan ke bank syariah pertama di Indonesia ini. Investor yang ingin masuk ke Bank Muamalat, menurut dia, bisa saja nantinya membentuk konsorsium.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai catatan, per September 2017, kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) BMI tercatat 11,58 persen, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,75 persen.
"Kami perlu waktu untuk itu karena baru dua minggu lalu Minna Padi menyatakan batal untuk itu (membeli saham baru pada rights issue)," ujarnya.
Permana berharap, injeksi modal dari investor bisa dilakukan sebelum paruh pertama tahun ini. Terkait target besarannya, Permana menyebutkan kemukinan masih akan berada di kisaran Rp4,5 triliun.
"Pada saatnya nanti, kalau sudah fix yang akan masuk, kami akan sampaikan berapa berapa sebenarnya yang kami setujui karena angka itu (Rp4,5 triliun) bisa bergerak. Bisa naik, bisa turun," ujarnya.
Selain injeksi modal langsung dari investor, untuk mendukung pembiayaan, perusahaan juga berencana menerbitkan sukuk senilai Rp1 triliun pada semester pertama tahun ini. (agi)