Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, data ekonomi berupa tingkat inflasi Februari 2018 yang cukup stabil, yaitu sebesar 0,17 persen, belum cukup mendongkrak laju IHSG.
Sementara, sentimen dari eksternal berupa potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada bulan ini masih menjadi penghalang utama IHSG bangkit (rebound).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini membuat dolar Amerika Serikat (AS) menguat, sehingga membuat rupiah terdepresiasi," tutur Nafan kepada CNNIndonesia.com, Senin (5/3).
Terlebih, Presiden AS Donald Trump juga berencana memberlakukan tarif impor baja sebesar 25 persen dan aluminium sebesar 10 persen.
Sejumlah sentimen tersebut membuat Nafan memproyeksi IHSG melanjutkan koreksinya. Menurut dia, sepanjang pekan ini IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.375 dan resistance 6.690.
Setali tiga uang, Analis KGI Sekuritas Indonesia Yuganur Wijanarko menilai, IHSG masih akan tertekan imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Bila terjadi koreksi, maka bisa menjadi kesempatan emas untuk akumulasi trading buy on weakness," tutur Yuganur melalui risetnya.
Dengan kata lain, pelaku pasar bisa melakukan aksi beli di pasar modal dengan harga murah. Adapun, beberapa saham yang bisa dibeli oleh pelaku pasar, yakni saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap) dan saham lapis kedua (second liner).
"Kemudian, bisa menjual pada teknikal rebound," tutup Yuganur.
Sekadar informasi, IHSG tercatat turun sepanjang pekan lalu sebesar 0,57 persen ke level 6.582. Hal ini juga membuat nilai kapitalisasi pasar turun 0,56 persen menjadi Rp7.322 triliun. (bir)