"Karena kalau kita marah-marah orang Indonesia, SDM kita tidak siap. Sekarang, kami siapkan, kami tidak menyalahkan yang lalu," ujarnya dalam pidatonya di Jakarta Food Security Summit (JFFS) ke-4 di Jakarta, Jumat (9/3).
Saat ini, Indonesia masih kekurangan tenaga kerja berkemampuan dan keterampilan khusus di beberapa sektor. Makanya, menurut Luhut, semestinya masyarakat Indonesia tak perlu khawatir dengan masuknya TKA ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Toh, di Singapura, ia mencontohkan terdapat sekitar 3 juta TKA. Jumlah TKA tersebut cukup besar dan tidak menjadi masalah di sana, justru Singapura malah menjadi negara yang maju dan berkembang.
"Tapi, saya kira setelah lima sampai 10 tahun, kalau kita belajar seperti Singapura, ada 3 juta orang asing. Tidak ada urusan. Mereka jadi tambah bagus. Kita harus bangsa yang berani fighting (berjuang)," katanya.
"Kalau punya kontrak dengan perushaan di Indonesia, maka perusahaan itu berikan kontrak dengan Anda tiga tahun, maka Anda dapat visa tiga tahun dan izin kerja tiga tahun," terang Luhut.
Lebih lanjut ia melanjutkan, saat ini Indonesia harus mencari solusi bukan memperdebatkan perkara TKA ini. Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan tenaga kerja Indonesia agar memiliki kompetensi khusus, sehingga dapat bersaing. Hal itu dilakukan dengan mengembangkan pendidikan dan pelatihan vokasi.
"Bikin kerja sama dengan Menteri Perindustrian ada politekniknya, sekarang mereka sedang melatih. Nah, itu nanti yang menggantikan orang-orang asing nanti," pungkasnya. (bir)