Dilansir dari Reuters (15/3), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,25 atau 0,4 persen menjadi US$64,89 per barel. Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,25 menjadi US$60,96 per barel.
Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan persediaan minyak mentah AS melonjak lima juta barel, lonjakan terbesar sejak Januari 2018. Realisasi tersebut jauh di atas perkiraan yang hanya sebesar dua juta barel. Di saat bersamaan, persediaan bahan bakar minyak berkurang lebih besar dibandingkan ekspektasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manajer Riset Pasar Tradition Energi Gene McGillian menilai laporan tingkat persediaan yang dirilis EIA tidak memberikan gambaran yang cukup besar terkait kondisi keseimbangan pasar.
Harga minyak tertekan pasca Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan dalam laporan bulanannya bahwa pasokan negara yang bukan anggotanya kemungkinan akan tumbuh sebesar 1,66 juta barel per hari (bph) pada 2018, hampir dua kali lipat dari prediksi pertumbuhan yang dibuat di November 2017. Kenaikan pasokan itu sebagian besar disebabkan oleh kenaikan pasokan AS.
Kartel OPEC juga menyatakan bahwa persediaan minyak mentah milik sebagian besar negara industri naik pada Januari lalu untuk pertama kalinya sejak delapan bulan. Hal ini menandakan efek dari kebijakan pemangkasan produksi kemungkinan memudar. OPEC juga memangkas proyeksi permintaan atas minyak mentah produksinya sebesar 250 bph menjadi 32,61 juta bph, penurunan untuk keeempat kalinya secara berturut-turut.
"Berdasarkan laporan OPEC, permintaan minyak mentah produksi OPEC harus mencapai 33 juta bph selama sisa tahun ini untuk menyingkirkan seluruh kelebihan pasokan," ujar ahli strategi Commerzbank Carsten Fritsch.
Di sisi lain, harga minyak terdongkrak di awal perdagangan oleh dorongan investor yang lebih luas di sektor komoditas. Hal ini terjadi setelah data produksi China menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi di atas ekspektasi untuk dua bulan pertama tahun ini. Sebagai catatan, China merupakan importir bahan mentah terbesar di dunia.
Harga minyak juga akan mendapat dorongan dari permintaan musiman dalam waktu dekat.
"Kami sekarang hanya dua hingga empat minggu dari waktu data persediaan mingguan bakal mulai berkurang lagi, yang seharusnya akan mendukung harga minyak," ujar Ahli Strategi Komoditas SEB Bjarne Schieldrop. (agi)