Per Januari 2018, Utang Luar Negeri Tembus US$357 Miliar

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 15/03/2018 21:14 WIB
Per Januari 2018, Utang Luar Negeri Tembus US$357 Miliar Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$357,5 miliar pada akhir Januari 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$357,5 miliar pada akhir Januari 2018. Angka ini meningkat sebesar 10,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari posisi Januari 2017 sebesar US$324,3 miliar.

Utang tersebut berasal dari ULN pemerintah dan BI (utang publik) sebesar US$183,4 miliar atau 51,3 persen dari total utang dengan pertumbuhan 13,7 persen (yoy). Sisanya, sekitar US$174,2 miliar merupakan utang swasta dengan pertumbuhan 6,8 persen (yoy).

Direktur Departemen Statistik BI Tutuk S.H Cahyono mengatakan, total ULN ini terbilang sehat, meski meningkat. Pasalnya, utang digunakan untuk kebutuhan pembiayaan produktif, baik di sektor publik maupun swasta.


"Ini sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk infrastruktur dan kegiatan produktif lainnya. Selain itu, utang tetap sehat karena didominasi oleh ULN jangka panjang," ujar Tutuk di kantornya, Kamis (15/3).


Berdasarkan jangka waktu, ULN jangka panjang sebesar US$307,2 miliar atau sekitar 85,9 persen dari total utang dan ULN jangka pendek sebesar US$50,3 miliar atau sekitar 14,1 persen dari total utang. Pertumbuhan ULN jangka panjang sebesar 9 persen (yoy) dan jangka pendek melambat 18,3 persen (yoy).

Untuk ULN sektor publik, sebesar US$183,4 miliar atau sekitar 98,1 persen merupakan utang jangka panjang. Artinya, hanya sekitar 1,9 persen berupa utang jangka pendek. Tak hanya mayoritas, BI juga mencatat bahwa pertumbuhan utang jangka panjang meningkat sekitar US$2,8 miliar pada bulan lalu.

"Kenaikan utang jangka panjang didorong oleh dana asing yang masuk (inflow) pada Surat Berharga Negara (SBN) dan peningkatan pinjaman (loan). Pinjaman loan pemerintah didominasi oleh kenaikan project loan sebesar US$1,2 miliar," terangnya.

Berdasarkan instrumen, utang publik terdiri dari penerbitan SBN US$64,8 miliar, obligasi global US$59,7 miliar, perjanjian pinjaman (loan agreement) US$55,7 miliar, dan lainnya. Adapun posisi perjanjian pinjaman terbagi atas program loan US$30,1 miliar dan project loan US$25,6 miliar.

Sementara untuk ULN sektor swasta, sebesar US$127,2 miliar atau sekitar 73 persen merupakan utang jangka panjang dan sisanya merupakan utang jangka pendek. Utang jangka panjang tercatat tumbuh 3,9 persen (yoy) dan jangka pendek melambat 15,8 persen (yoy).

"Utang swasta meningkat cukup signifikan berupa loan agreement, tumbuh 1,1 persen dan diikuti oleh peningkatan utang C&Ds. Sementara utang berbentuk utang dagang dan surat utang menurun," katanya.

Lebih rinci, utang perjanjian pinjaman sebesar US$110,4 miliar, surat utang US$31,3 miliar, C&Ds US$12,9 miliar, utang dagang US$11,1 miliar, dan instrumen lainnya mencapai US$8,4 miliar.


Berdasarkan sumber, utang swasta berasal dari perusahaan yang terafiliasi dengan masing-masing perusahaan mencapai US$52,8 miliar dan berasal dari non-afiliasi sekitar US$52,8 miliar.

Berdasarkan sektor, industri yang paling banyak mengambil utang adalah sektor jasa keuangan dan asuransi mencapai US$24,2 miliar. Angka ini berkontribusi sekitar 13,89 persen dari total utang swasta.

Diikuti sektor industri pengolahan US$20,6 miliar, industri pengadaan listrik, gas, dan uap US$14,1 miliar, industri pertambangan dan penggalian US$13,3 miliar, dan sektor lainnya. "Keempat sektor itu yang paling banyak mengambil utang dari total 17 sektor industri yang ada," pungkasnya. (lav/lav)