Utang tersebut berasal dari ULN pemerintah dan BI (utang publik) sebesar US$183,4 miliar atau 51,3 persen dari total utang dengan pertumbuhan 13,7 persen (yoy). Sisanya, sekitar US$174,2 miliar merupakan utang swasta dengan pertumbuhan 6,8 persen (yoy).
Direktur Departemen Statistik BI Tutuk S.H Cahyono mengatakan, total ULN ini terbilang sehat, meski meningkat. Pasalnya, utang digunakan untuk kebutuhan pembiayaan produktif, baik di sektor publik maupun swasta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan jangka waktu, ULN jangka panjang sebesar US$307,2 miliar atau sekitar 85,9 persen dari total utang dan ULN jangka pendek sebesar US$50,3 miliar atau sekitar 14,1 persen dari total utang. Pertumbuhan ULN jangka panjang sebesar 9 persen (yoy) dan jangka pendek melambat 18,3 persen (yoy).
"Kenaikan utang jangka panjang didorong oleh dana asing yang masuk (inflow) pada Surat Berharga Negara (SBN) dan peningkatan pinjaman (loan). Pinjaman loan pemerintah didominasi oleh kenaikan project loan sebesar US$1,2 miliar," terangnya.
Berdasarkan instrumen, utang publik terdiri dari penerbitan SBN US$64,8 miliar, obligasi global US$59,7 miliar, perjanjian pinjaman (loan agreement) US$55,7 miliar, dan lainnya. Adapun posisi perjanjian pinjaman terbagi atas program loan US$30,1 miliar dan project loan US$25,6 miliar.
Sementara untuk ULN sektor swasta, sebesar US$127,2 miliar atau sekitar 73 persen merupakan utang jangka panjang dan sisanya merupakan utang jangka pendek. Utang jangka panjang tercatat tumbuh 3,9 persen (yoy) dan jangka pendek melambat 15,8 persen (yoy).
"Utang swasta meningkat cukup signifikan berupa loan agreement, tumbuh 1,1 persen dan diikuti oleh peningkatan utang C&Ds. Sementara utang berbentuk utang dagang dan surat utang menurun," katanya.
Lebih rinci, utang perjanjian pinjaman sebesar US$110,4 miliar, surat utang US$31,3 miliar, C&Ds US$12,9 miliar, utang dagang US$11,1 miliar, dan instrumen lainnya mencapai US$8,4 miliar.
Berdasarkan sumber, utang swasta berasal dari perusahaan yang terafiliasi dengan masing-masing perusahaan mencapai US$52,8 miliar dan berasal dari non-afiliasi sekitar US$52,8 miliar.
Berdasarkan sektor, industri yang paling banyak mengambil utang adalah sektor jasa keuangan dan asuransi mencapai US$24,2 miliar. Angka ini berkontribusi sekitar 13,89 persen dari total utang swasta.
Diikuti sektor industri pengolahan US$20,6 miliar, industri pengadaan listrik, gas, dan uap US$14,1 miliar, industri pertambangan dan penggalian US$13,3 miliar, dan sektor lainnya. "Keempat sektor itu yang paling banyak mengambil utang dari total 17 sektor industri yang ada," pungkasnya. (lav)