Cara Petani Cabai Banyuwangi Raup Laba Ratusan Juta

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 18/03/2018 19:59 WIB
Cara Petani Cabai Banyuwangi Raup Laba Ratusan Juta Para petani cabai di wilayah selatan Banyuwangi meraup laba hingga ratusan juta rupiah per hektare. Hal itu diklaim berkat manajemen waktu tanam yang baik. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Para petani cabai di wilayah selatan Banyuwangi meraup laba hingga ratusan juta rupiah per hektare. Hal itu diklaim terjadi berkat manajemen waktu tanam yang baik.

Imam Badrus, Ketua Kelompok Tani Ketileng Makmur di Sumbergondo, Glenmore, Banyuwangi menyebutkan petani menuai untung dari peningkatan harga cabai yang kini berkisar Rp60.000 per kilogram.

Biaya produksi mulai pupuk hingga perawatan per pohon ‎menghabiskan dana hanya Rp5.000. Dia menyebut biaya produksi satu hektare lahan cabai rata-rata Rp90 juta.


"Satu hektare lahan di desa ini 18.000 pohon cabai. Beda dengan desa sentra cabai lainnya di Banyuwangi, seperti Wongsorejo, yang mungkin lebih banyak karena jarak antar pohon lebih rapat," kata Badrus, Minggu (18/3).

Dari sisi volume produksi, satu pohon bisa menghasilkan 5-6 ons cabai. Jika diakumulasi, 18.000 pohon cabai bisa menghasilkan omzet hingga Rp450 juta.

Dengan demikian, apabila dipotong biaya produksi, keuntungan petani bisa mencapai Rp 360 juta per hektare.

"Kalau soal keuntungan, ya banyak banget. Alhamdulilah," kata Badrus.

Bersama Dinas Pertanian Banyuwangi, kelompok tani itu mencari celah waktu menanam cabai. Panen bulan ini merupakan hasil tanam pada September hingga Oktober tahun lalu.

"Kami atur waktu perkiraan panennya agar dapat harga terbaik. Misalnya yang panen sekarang ini, adalah hasil kami tanam Agustus-Oktober 2017. Alhamdulillah sesuai perkiraan harga sekarang sangat baik. Intinya, petani jangan latah, tapi harus tahu di mana celah waktunya," papar Badrus.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meminta agar manajemen penanaman tersebut dijaga. Siklus harga cabai sudah diketahui, sehingga saat menanam bisa diperkirakan masa panen saat harga mahal.

"Saya rasa manajemen di kelompok tani sudah bagus," kata Anas.

Anas mengatakan masa panen di Banyuwangi sudah sepanjang tahun. Karena banyak daerah di Banyuwangi merupakan penghasil cabai, terutama Wongsorejo yang merupakan daerah sentra cabai Banyuwangi sekaligus nasional.

"Hanya saja karakteristik tiap daerah berbeda. Di Wongsorejo bisa panen sepanjang tahun, berbeda dengan di sini. Jadi kita harus benar-benar atur," kata Anas.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan mengatakan cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi.


Pemerintah daerah Banyuwangi telah menandatangani kerja sama dengan kelompok tani, salah satunya di kawasan selatan Banyuwangi untuk turut mengendalikan inflasi.

Bentuk kerja samanya, pemerintah daerah memberikan bantuan pertanian. Lalu petani diminta menjual sebagian hasil panennya pada pemerintah untuk keperluan cadangan operasi pasar dengan harga yang telah disepakati bersama. Kesepakatan harga tersebut ditandatangai kedua belah pihak sebelum masa tanam dimulai.

"Tentunya harga yang kami tawarkan tidak akan merugikan petani, sudah menguntungkan petani. Jadi petani tetap untung, harga pasar juga tetap bisa dikendalikan," terang Arief. (Dik/lav)