Direktur Utama Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, guna mengantisipasi kejadian serupa berulang, pihaknya juga akan mempercepat migrasi kartu ATM/Debit dari teknologi pita magnetik ke chip.
Skimming merupakan tindakan pencurian informasi kartu ATM/Debit dan kredit dengan cara menyalin informasi pada kartu. Kejahatan ini, biasanya dilakukan pada kartu yang masih menggunakan teknologi pita magnetik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan laporan yang diterima Kepolisian, terdapat empat mesin ATM Mandiri yang disusupi alat skimming, yakni dua unit di Surabaya dan dua unit di Yogyakarta. Kartika menyebutkan pelaku merupakan sindikat kejahatan siber yang berasal dari Eropa Timur.
"Karena teknologi berubah, kami dan polisi perlu intensifkan patroli. Perlu respon cepat kalau ada laporan nasabah. Semakin proaktif lebih cepat," terang dia.
Tiko menjamin pada 2021 seluruh kartu ATM/Debit Mandiri yang saat ini mencapai 17 juta kartu sudah menggunakan teknologi chip, meskipun biaya migrasi tidak murah. Mandiri membutuhkan investasi sebesar Rp25 ribu per kartu guna mengganti seluruh kartu ATM/Debit menjadi chip dari pita magnetik.
Dengan demikian, total investasi yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp425 miliar.
Kartika menargetkan, dapat memigrasi sekitar 25 persen kartu ATM/debit dari total kartu yang dipegang nasabah setiap tahunnya. Adapun saat ini, baru 4,25 juta kartu ATM/Debit Mandiri atau 25 persen dari total kartu ATM/Debit Mandiri yang menggunakan teknologi chip.
"Kami upayakan maksimal 3-4 tahun terlaksana, sejalan dengan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN)," terang Tiko.
Sebelumnya, bank BUMN lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga menjadi korban skimming. Adapun BRI telah mengganti dana milik nasabah yang raib sebesar Rp145 juta milik 33 nasabah. (agi)