"Untuk (realisasi pasokan premium) di Jamali, data yang ada di kami 5,7 juta kiloliter (kl) untuk tahun lalu. Dalam konteks ketersediaan, premium harus disediakan minimal sama dengan 2017," ujar Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rabu (28/3).
Fanshurullah mengungkapkan salah satu tugas BPH Migas adalah menjamin ketersediaan dan distribusi BBM, baik di Jamali maupun di luar Jamali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, BPH Migas belum mendapatkan laporan dari Pertamina terkait penjualan premium di wilayah Jamali. Sementara, untuk wilayah di luar Jamali, Fanshurullah memastikan alokasi premium penugasan mencapai 7,5 juta kl.
Terkait kenaikan harga Pertalite sebesar Rp200, Fanshurullah menilai besarannya masih dalam batas wajar. Toh, meskipun naik, harga bensin beroktan 90 (RON90) keluaran Pertamina itu masih di bawah pesaingnya.
Selanjutnya, BPH Migas akan terus mendukung upaya Pertamina dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk beralih ke BBM dengan oktan lebih tinggi yang lebih ramah lingkungan.
Ditemui terpisah, Direktur Pertamina Muchamad Iskandar menyatakan bahwa alokasi premium untuk wilayah Jamali tahun ini bakal turun dibandingkan tahun lalu. Namun, ia tidak menyebutkan seberapa besar penurunannya.
Lebih lanjut, Iskandar juga mengklaim belum ada peningkatan permintaan premium di Jamali pasca kenaikan harga Pertalite.
"Sampai dengan hari ini belum ada (peningkatan permintaan)," ujar Iskandar usai menghadiri rapat dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR. (bir)